Yield US Treasury Turun, Rupiah Menguat 8 Poin di Awal Perdagangan

Rupiah - www.tangandiatas.comRupiah - www.tangandiatas.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka menguat 8 poin atau 0,06 persen ke level Rp 13.881 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (25/4). Kemarin, Selasa (24/4), kurs berakhir terapresiasi 86 poin atau 0,62 persen ke posisi Rp 13.889 per USD setelah diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.900 hingga Rp 14.000 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau sedikit menurun. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,20 persen menjadi 90,762 di saat imbal hasil AS bertenor 10 tahun mencapai tingkat psikologis penting sebesar 3,00 persen untuk pertama kalinya sejak tahun 2014.

Dolar AS sempat mencapai level tertinggi tiga bulan pada 90,985 terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan pagi. Menurut para analis, usai naik selama 5 hari berturut-turut, sejumlah pedagang berusaha untuk mengumpulkan laba.

Dari sektor ekonomi, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS pada Maret 2018 berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 694.000 unit. Angka ini 4 persen melebihi Februari yang direvisi sebesar 667.000 unit dan 8,8 persen melebihi prediksi Maret 2017 sebesar 638.000 unit.

Sedangkan hasil survei Nielsen, penyedia dan analitik global terkemuka melaporkan Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board AS naik menjadi 128,7 pada April dari 127,0 pada Maret, melebihi perkiraan .

Menurut ekonom BCA David Sumual, hampir seluruh mata uang regional saat ini memang sedang dalam posisi menguat terhadap dolar AS. “Sepertinya karena yield US Treasury mulai turun,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menyebutkan jika intervensi dari pihak (BI) juga turut menjaga pergerakan rupiah tetap stabil di pasar spot. Akan tetapi pada perdagangan hari ini Andri memprediksi nilai tukar rupiah akan kembali terkoreksi karena dipicu sentimen rilis data keyakinan konsumen di Amerika Serikat.

Loading...