Pesona Yield US Treasury Memudar, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - pojokpulsa.co.idRupiah - pojokpulsa.co.id

JAKARTA – sanggup bertahan di posisi hijau pada Kamis (22/4) sore ketika AS cenderung bergerak lebih rendah setelah keuntungan imbal hasil Treasury AS perlahan memudar. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda ditutup menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.520 per AS.

Sementara itu, pergerakan mata uang terhadap greenback juga terpantau naik. Pagi tadi, yen Jepang terpantau menguat 0,07%, kemudian dolar Singapura menguat 0,12%, dolar Taiwan menguat 0,21%, dan won Korea Selatan menguat 0,25%. Hanya rupee India yang terpantau bergerak lebih rendah, melemah tajam 0,77%.

“Sentimen terhadap aset-aset berisiko terlihat membaik pagi tadi. Indeks Eropa dan AS ditutup menguat pada perdagangan kemarin, sedangkan hari ini indeks Jepang dan Korea Selatan juga terlihat menguat,” tutur pengamat pasar , Ariston Tjendra, dikutip dari CNN Indonesia. “Sentimen positif ini juga ditopang turunnya yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di kisaran 1,53%.”

Dari pasar , indeks memang belum beranjak dari dekat posisi terendah multi-minggu terhadap sebagian besar mata uang utama pada hari Kamis karena memudarnya keuntungan dalam imbal hasil Treasury AS mengurangi keunggulan daya tarik greenback. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,119 poin atau 0,13% ke level 91,036 pada pukul 14.45 WIB.

“Kami telah mengonfirmasi bahwa untuk US Treasury, yang berarti tidak ada tekanan ke atas pada imbal hasil,” kata ahli strategi valuta asing senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa, dilansir dari Reuters. “Dalam lingkungan ini, dolar AS akan menguji sisi negatifnya terhadap yen. Berbeda dengan euro, karena ada tanda-tanda bahwa orang-orang di dalam ECB lebih optimis tentang ekonomi.”

ECB ( Eropa) diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan ketika bertemu Kamis waktu setempat, tetapi analis mengatakan pertemuan ini akan mengatur panggung untuk bulan Juni, ketika pembuat kebijakan harus memutuskan apakah akan memperlambat pembelian obligasi atau tidak. Sebelumnya, Presiden Belanda, Klaas Knot, telah mengatakan pengurangan mungkin terjadi, dan euro dapat melanjutkan kenaikannya terhadap dolar AS.

Loading...