Hidup di Zona Perang, Warga Gaza Dilupakan Sebagai Korban

Warga Gaza Hidup di Zona Perang - www.rasilnews.comWarga Gaza Hidup di Zona Perang - www.rasilnews.com

GAZA – masih belum berhenti menggempur jalur Gaza. Pekan lalu, mereka menanggapi sebuah serangan dengan roket yang menewaskan 34 warga Palestina di Gaza, termasuk 16 warga sipil. Sayangnya, ketika menggunakan ‘haknya untuk mempertahankan diri’, internasional jarang bertanya ‘dari apa atau siapa?’ dan seolah mengabaikan fakta bahwa adalah penjajah ilegal di Palestina dan tidak pernah memperlakukan warga Gaza sebagai korban.

“Israel ‘menjaga’ dua juta Gaza dengan aman di penjara terbuka,” tulis CJ Werleman, seorang jurnalis, penulis, dan analis tentang konflik dan terorisme, dalam suatu kolom di TRT World. “Lebih penting lagi, media tidak pernah bertanya, misal, seperti apa rasanya menjadi warga sipil tak bersenjata yang dikurung secara permanen di kandang baja tanpa tempat untuk berlindung ketika tempur terbang di atas kepala?”

Menurut pengakuan seorang warga Gaza bernama Najla Shawa, putaran eskalasi terbaru ini hanyalah satu dari sekian banyak episode yang sering mereka lalui. Ia mengaku sudah sering mengalami kejadian seperti ini, setidaknya sejak dirinya masih kanak-kanak. “Namun, sekarang saya sudah menjadi orang tua dan 72 jam terakhir benar-benar mengerikan,” katanya.

“Setiap kali ada kegiatan apa pun, sangat sulit untuk mengatasinya. Suara-suara bom dan kemungkinan serangan udara berikutnya membuat hidup benar-benar sulit,” sambung Shawa. “Saya masih belum pada tahap menjelaskan hal ini kepada putri saya, jadi saya memberi tahu mereka bahwa (serangan udara) ini adalah guntur atau kembang api.”

Shawa melanjutkan, ketika dia mendengar serangan udara Israel telah membunuh komandan Jihad , dia dan suaminya tahu bahwa akan terjadi pemboman. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan energi untuk bersabar dan menjaga agar tidak stres, lalu melakukan hal-hal normal seperti makan dan main bersama anaknya. “Jadi, mereka bisa sibuk dan melupakan kebisingan di luar,” sambungnya.

Sementara itu, Omar Ghraieb, seorang jurnalis Palestina di Gaza, mengatakan bahwa cara yang dilakukan Shawa dan banyak warga Gaza lainnya sangat mengejutkan, bagaimana mereka beradaptasi dengan ledakan dan hidup secara normal. Itu sebenarnya membuatnya takut dan meditasi adalah cara agar dirinya tetap tenang dan bisa mempertahankan kewarasan selama periode pemboman Israel yang berkelanjutan.

Dr. Basem Naim, mantan Menteri Kesehatan di Gaza, menjelaskan bagaimana ‘kepercayaan pada keadilan atas tujuan’ membantu warga Palestina mengatasi kesengsaraan dan penderitaan yang terus-menerus dilakukan oleh militer Israel. Di samping itu, kohesi sosial juga penting untuk mendukung satu sama lain secara emosional, sementara moral kepahlawanan memicu kesabaran dan ketabahan mereka.

“Ketika saya mengunjungi Gaza beberapa tahun yang lalu, beberapa orang tua Palestina menjelaskan bagaimana anak-anak mereka menjadi begitu trauma dengan serangan udara Israel,” lanjut Werleman. “Mereka akan buang air kecil tanpa sadar ketika sebuah pesawat pengintai Israel terbang di atas kepala mereka.”

Krisis kesehatan mental di Gaza telah digambarkan sebagai ‘luka tembak yang tak terlihat’, dengan sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa 81 persen anak-anak sekolah Palestina berjuang secara akademis karena tekanan yang berkaitan dengan konflik. Ketika Ghaliah Gharabli kehilangan putranya yang berusia 15 tahun oleh seorang penembak jitu Israel, putrinya mulai menunjukkan gejala yang berkaitan dengan post-traumatic stress setiap kali dia mendengar suara serangan udara dan roket.

“Orang-orang Palestina bukanlah Hamas atau Jihad Islam,” tambah Werleman. “Lebih penting lagi, orang-orang Palestina adalah manusia, tidak berbeda dengan Anda atau saya, yang tidak punya lain selain mengasuh anak, merawat diri, dan melakukan rutinitas sehari-hari, bahkan ketika rudal dan bom Israel jatuh hanya beberapa meter jauhnya.”

Loading...