Jadi Alat Pembayaran Sah, Warga El Salvador Justru Tolak Adopsi Bitcoin

Bitcoin - www.unica.itBitcoin - www.unica.it

SAN SALVADOR – El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang mengadopsi sebagai alat yang sah, karena dinilai akan bagus untuk , termasuk menghemat uang masyarakat. Sayangnya, sebagian warga negara tersebut justru menentang penggunaan cryptocurrency karena menganggap digital hanya menguntungkan orang kaya, bukan orang miskin.

Seperti diberitakan Deutsche Welle, El Salvador, yang berada di Amerika Tengah, telah menjadi yang pertama di dunia yang ‘memaksa’ pedagang dan departemen untuk menerima koin digital. Mesin ATM untuk mengambil bitcoin sedang didirikan, sekarang dapat dibayar dalam mata uang kripto, dan menawarkan kredit bitcoin senilai 30 kepada siapa saja yang mengunduh dompet digital Chivo.

Presiden El Salvador, Nayib Bukele, berpendapat bahwa dengan mengadopsi cryptocurrency, warganya dapat akan menghemat uang untuk biaya pengiriman uang, yang secara kolektif bernilai total 400 juta dolar AS per tahun. Dia juga menekankan bahwa koin digital tidak wajib. Meski begitu, para ahli dan regulator telah memperingatkan tentang kurangnya perlindungan bagi pengguna bitcoin, tidak seperti mata uang biasa.

Selain itu, menurut sebuah survei oleh Central American University (CAU), sekitar 70% dari warga El Salvador menentang langkah tersebut. Mereka mengatakan akan terus menggunakan dolar AS, mata uang resmi negara itu selama 20 tahun terakhir. Sebagian besar dari mereka yang disurvei mengatakan, mereka ingin undang-undang baru yang memungkinkan adopsi mata uang dicabut.

Menurut banyak kritikus, bitcoin terlalu mudah berubah untuk digunakan oleh orang-orang El Salvador yang bekerja di luar negeri untuk dikirim kembali ke keluarga mereka. Mata uang digital terbesar di dunia mungkin bernilai 51.051 dolar AS pada awal September 2021. Namun, pada bulan Juni kemarin, nilainya kurang dari 30.000 dolar AS, setelah sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa sebesar 64.000 dolar AS beberapa bulan sebelumnya.

Seperti diketahui, lebih dari 2,5 juta orang El Salvador tinggal di luar negeri, kebanyakan di AS, dan pada tahun 2020 mereka mengirim kembali uang hampir 6 miliar dolar AS. Sebuah studi bank sentral tahun 2015 menunjukkan bahwa lebih dari seperlima rumah tangga negara tersebut bergantung pada pengiriman uang untuk bertahan hidup.

Seorang pedagang kaki lima bernama Mario Perez mengatakan, volatilitas dan kompleksitas seputar penggunaan sistem bitcoin telah mematikan usahanya. Karena itu, ia tidak akan menggunakannya, baik untuk pengiriman uang maupun untuk pekerjaan. Sementara itu, warga lain bernama Jose Santos Melara mengeluhkan bagaimana cryptocurrency tidak didukung oleh bank sentral mana pun. “Bitcoin ini adalah mata uang yang tidak ada, mata uang yang tidak akan menguntungkan orang miskin, tetapi orang kaya,” katanya kepada kantor berita AFP.

Media lokal pada Senin (6/9) kemarin melaporkan bahwa anggota parlemen dari partai oposisi, Claudia Ortiz, telah meluncurkan upaya untuk mencabut undang-undang tersebut. Lewat Twitter, ia menulis bahwa penduduk membenci kenyataan bahwa undang-undang ini disetujui untuk mengulangi kesalahan masa lalu, tanpa konsultasi, tanpa studi teknis, tanpa penjelasan yang kredibel tentang bagaimana hal itu akan menguntungkan negara.

Laura Andrade, Direktur Public Opinion Institute CAU, juga menyayangkan kurangnya masukan dari publik. Menurutnya, keputusan diambil oleh pemerintah dan anggota parlemen tanpa berkonsultasi dengan penduduk. Sementara itu, analis mengkhawatirkan adopsi cryptocurrency dapat memicu pencucian uang dan kegiatan ilegal lainnya.

Setelah undang-undang bitcoin disetujui, lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat kelayakan kredit El Salvador, sedangkan obligasi berdenominasi dolar AS negara itu juga berada di bawah tekanan. AS pun telah mendesak pemerintah El Salvador untuk memastikan penggunaan bitcoin yang ‘teratur, ‘transparan’, dan ‘bertanggung jawab’, dan untuk melindungi diri dari ‘aktor jahat’ seperti peretas yang mencari uang tebusan.

Loading...