Wait & See Jelang FOMC Meeting, Rupiah Berakhir Drop

Rupiah Melemah - www.viva.co.id

harus menutup pada Senin (19/3) ini di teritori merah setelah global mengambil sikap wait and see jelang pertemuan di tengah pekan. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri dengan pelemahan sebesar 14 poin atau 0,10% ke level Rp13.765 per dolar .

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% di posisi Rp13.751 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan (16/3) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan dibuka melemah 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.770 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak mampu keluar dari teritori merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak stabil di level atas pada Senin ini, ketika investor mengambil sikap wait and see jelang pertemuan Federal Reserve yang bakal dipimpin oleh Jerome Powell untuk pertama kalinya. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,069 poin atau 0,08% menuju level 90,302 pada pukul 11.50 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS sempat mencapai posisi tertinggi dua minggu di kisaran level 90,38 pada Jumat kemarin, menyusul rilis data indikator AS terbaru yang cukup positif. Produksi industri Paman Sam melonjak selama bulan Februari 2018, sedangkan Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan pada bulan Maret 2018 naik ke level tertinggi sejak tahun 2004.

Data tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi global sedang menikmati pertumbuhan yang kuat dan karenanya Federal Reserve diprediksi akan menaikkan pada akhir pertemuan tengah pekan ini. Dengan kenaikan yang diyakini sebesar 25 basis poin, fokus utama saat ini adalah pada apakah pembuat kebijakan bakal memproyeksikan kenaikan sebanyak empat kali sepanjang 2018.

Meski demikian, penguatan dolar AS pada hari ini cenderung dibatasi yen akibat kondisi di Negeri Sakura. Jajak pendapat Nippon TV mengatakan bahwa dukungan untuk Perdana Menteri Shinzo Abe merosot sekitar 14 poin persentase dari bulan lalu menjadi 30%. “Risiko Jepang akan menjadi fokus pasar untuk saat ini. Risiko ‘Abenomik’ mungkin akan diluncurkan kembali,” kata ahli strategi di Barclays di Tokyo, Shinichiro Kadota.

Loading...