Wait and See Kebijakan Suku Bunga BI, Kurs Rupiah Rebound di Awal Dagang

Rupiah - www.konfrontasi.comRupiah - www.konfrontasi.com

Jakarta mengawali hari ini, Jumat (29/6) dengan penguatan sebesar 24 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 14.370 per AS. Pada perdagangan kemarin, Kamis (28/6), rupiah berakhir terdepresiasi cukup dalam sebesar 215 poin atau 1,52 persen ke posisi Rp 14.394 per USD.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS terpantau naik 0,09 persen menjadi 95,380 lantaran para investor masih mencerna data pertumbuhan yang baru saja dirilis di Amerika Serikat.

Berdasarkan perkiraan ketiga yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS pada Kamis (28/6), domestik bruto (PDB) riil AS naik ke tingkat tahunan 2,0 persen pada kuartal pertama 2018. Sedangkan pada kuartal keempat PDB riil Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 2,9 persen.

Departemen Perdagangan AS menambahkan, perubahan dalam PDB riil direvisi turun 0,2 persen poin dari perkiraan kedua yang menggambarkan revisi turun untuk persediaan investasi swasta, pengeluaran konsumsi pribadi, dan ekspor yang sebagian diimbangi revisi naik untuk investasi tetap non residensial.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (28/6) juga melaporkan, pada pekan yang berakhir 23 Juni, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 227.000, naik 9.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya sebesar 218.000. Rata-rata pergerakan 4 minggu sebesar 222.000, naik 1.000 dari rata-rata yang tak direvisi di pekan sebelumnya, 221.000.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah melemah diperkirakan karena kembali menguatnya USD. “Hampir seluruh mata uang utama maupun emerging market melemah terhadap dollar,” ungkap analis Monex Investindo Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Rupiah juga tertekan seiring naiknya yield surat utang negara (SUN). Pada Kamis kemarin, yield SUN acuan bertenor 10 tahun ada di posisi 7,86 persen atau naik 1,69 persen. Alhasil para investor asing banyak yang menarik dananya dari pasar domestik.

Bank Indonesia (BI) sendiri diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang sedang berjalan. Namun menurut Faisyal sentimen tersebut tak akan memberi dampak yang terlalu signifikan. “Pasalnya, pasca suku bunga naik dua kali, rupiah masih belum stabil juga,” ucapnya.

Loading...