Wait and See Jelang Rapat The Fed, Rupiah Dibuka Melemah 28 Poin

Meski sempat menguat tipis pada tutup dagang kemarin (23/8), namun pada hari ini (24/8) rupiah diprediksi kembali bergerak variatif dan cenderung melemah. Sikap global yang wait and see jelang pidato The Fed akhir pekan ini dan kekecewaan mengenai BI 7-day reverse repo rate membuat mata uang Garuda minim dukungan.

Seperti dilaporkan Index, rupiah mengawali hari ini dengan pelemahan sebesar 28 poin atau 0,21% di level Rp13.250 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.21 WIB, mata uang Garuda kembali 22 poin atau 0,17% ke posisi Rp13.244 per dolar AS.

“Laju rupiah diperkirakan masih cenderung variatif seiring sikap wait and see jelang pertemuan The Fed,” ujar Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, . “Sementara dari dalam negeri, masih minim sentimen positif sehingga laju mata uang Garuda pun tidak banyak mengalami perubahan dari sebelumnya.”

Meski pasar tetap skeptis bahwa petinggi The Fed bakal menaikkan suku bunga pada bulan-bulan mendatang, namun indeks dolar AS mampu mempertahankan pergerakan positifnya. Pada hari ini, dolar AS dibuka dengan kenaikan tipis 0,020 poin atau 0,02% ke level 94,559. Kemudian, the greenback lanjut menguat 0,023 poin atau 0,02% ke posisi 94,562 pada pukul 07.13 WIB.

“Pelaku pasar terlihat masih menunggu pidato Gubernur The Fed yang akan digelar akhir pekan ini sekaligus menanti rilis AS kuartal II,” sambung Reza. “Rupiah kemungkinan bergerak pada level support Rp13.232 per dolar AS dan resisten Rp13.207 per dolar AS.”

Sementara itu, Analis Pasar Uang , Rully Arya Wisnubroto, menambahkan bahwa tekanan rupiah semakin berat karena pasar kecewa dengan BI 7-day reverse repo rate yang diharapkan bisa sekitar 25 basis poin. “Jika net sell di pasar saham berlanjut, rupiah bakal kian melemah di kisaran Rp13.160 hingga Rp13.245 per dolar AS,” katanya.

Loading...