Wait And See Jelang Pidato Yellen, Rupiah Melaju 40 Poin Di Awal Dagang

Jakarta – Kurs dibuka menguat 40 poin atau 0,3 persen ke posisi Rp 13.502 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (4/10). Kemarin, Selasa (3/10), Garuda ditutup terdepresiasi 0,01 persen atau 2 poin ke level Rp 13.542 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.534 hingga Rp 13.593 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Selasa atau Rabu pagi di tengah aksi wait and see para menjelang pidato Ketua , Janet Yellen yang diperkirakan akan menuturkan petunjuk lebih jelas terkait waktu kenaikan selanjutnya. Dolar AS dilaporkan naik tipis sebesar 0,04 persen menjadi 93,600 di akhir perdagangan.

Janet Yellen dijadwalkan untuk menyampaikan pidato pembukaan di Komunitas Perbankan pada Konferensi Abad 21 di St. Louis pada Rabu waktu setempat. Seperti diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak 2 kali sepanjang tahun 2017 ini. Berdasarkan rapat bulan lalu, The Fed menyatakan akan menaikkan 1 kali lagi suku bunganya tahun ini dan akan terjadi 3 kenaikan suku bunga pada tahun 2018 depan. Berdasarkan FedWatch CME Group, Selasa (3/10) ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Fed pada Desember 2017 mencapai 82,9 persen.

Sementara itu, rupiah berhasil rebound setelah kemarin sempat turun tipis. Meski demikian, beberapa analis berpendapat bahwa rupiah kemungkinan akan kembali melemah karena sentimen dari dalam negeri masih minim. Pergerakan rupiah diramalkan banyak dipengaruhi oleh faktor global.

Misalnya saja gempuran data ekonomi Amerika Serikat yang membaik. Pada Senin (2/10) lalu indeks belanja sektor manufaktur AS dilaporkan ada di tingkat 60,8, melebihi konsensus pasar. Selain itu, data ekonomi di kawasan Eropa dan Inggris cenderung buruk. “Ini membuat indeks dollar AS terus menguat, diikuti juga oleh penguatan yield US treasury,” ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir Kontan.

Senada, Analis Valbury Futures Lukman Leong juga mengatakan bila rupiah berpotensi untuk kembali melemah. “Minimnya sentimen dalam negeri turut memperparah pelemahan rupiah. Padahal secara fundamental, ekonomi Indonesia masih positif,” tandasnya.

Loading...