Voting Brexit Tertunda, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – harus puas berkubang di teritori merah pada perdagangan Selasa (11/12) sore, meski indeks AS juga bergerak melandai, dipicu reaksi negatif atas tertundanya voting Brexit. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 55 poin atau 0,37% ke level Rp14.608 per dolar AS.

“Ada tiga yang menyebabkan rupiah tidak mampu mengungguli dolar AS,” tutur Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, dikutip CNBC. “Pertama adalah kekhawatiran pasar terkait melemahnya yang memicu self off di saham , lalu reaksi pasar yang negatif atas voting Brexit yang tertunda, serta pengunduran diri Gubernur Bank Sentral India.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.613 per dolar AS, terdepresiasi 96 poin atau 0,66% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.517 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia variatif versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 1,29% dialami rupee India, sedangkan kenaikan tertinggi sebesar 0,26% menghampiri yen Jepang.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Selasa, ketika pound sterling mencoba bangkit dari keterpurukan akibat penundaan pemungutan suara untuk kesepakatan Brexit. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,124 poin atau 0,13% ke level 97,095 pada pukul 11.24 WIB, sedangkan pound sterling rebound 0,12% ke 1,2576 per dolar AS pada pukul 10.57 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, pada Senin (11/12) waktu setempat memutuskan untuk menunda pemungutan suara parlemen untuk mencari kesepakatan Brexit. Langkah ini memicu lebih banyak ketidakpastian karena Negeri Ratu Elizabeth saat ini menghadapi Brexit tanpa kesepakatan, kesepakatan menit akhir, atau referendum Eropa lainnya.

Imbasnya, pound sterling sempat mencapai level terendah 20 bulan terhadap dolar AS pada awal pekan. Pelemahan yang dialami mata uang ini menjadi keuntungan bagi greenback, yang bangkit dari tren pelemahannya terhadap sejumlah mata uang utama akibat berkembangnya spekulasi akhir siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve yang lebih cepat dari prediksi.

“Pelemahan yang dialami imbal hasil AS akan mendorong greenback ke kecenderungan untuk menurun, tetapi mungkin tidak pada saat ini,” ujar ahli strategi FX senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Tidak ada cukup permintaan untuk yen dan euro, dengan kekhawatiran politik di Eropa. Dan, tentu saja ada pound yang dibebani dengan masalah Brexit.”

Loading...