Volatilitas Tinggi, Rupiah Tetap Menguat di Akhir Rabu

Rupiah - www.komoditas.co.idRupiah - www.komoditas.co.id

JAKARTA – sanggup bertahan di area hijau pada Rabu (5/2) sore, ketika volatilitas keuangan di relatif tinggi menyusul masih belum meredanya kekhawatiran mengenai penyebaran virus corona. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.54 WIB, mata uang Garuda menguat 25 poin atau 0,18% ke level Rp13.690 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan berada di posisi Rp13.717 per dolar AS, menguat 43 poin atau 0,31% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.760 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,74% menghampiri dolar Singapura.

“Reaksi pasar valas di Asia lebih masuk akal mengingat perkembangan virus yang sedang berlangsung. Kami sudah melihat lebih banyak volatilitas sekarang karena beberapa mencoba untuk bottoming out,” ujar ahli analis emerging markets di Credit Agricole CIB, Eddie Cheung, dilansir Bloomberg. “Dampak negatif terhadap pertumbuhan China dan Asia masih belum tampak. Meskipun tentu saja ada ruang kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan mencegah perlambatan.”

Dari pasar , indeks dolar AS mempertahankan kenaikannya terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, termasuk yen Jepang, pada hari Rabu, ketika tanggapan China terhadap wabah virus corona mendukung kepercayaan investor, bahkan ketika jumlah korban jiwa makin meningkat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,048 poin atau 0,05% ke level 98,009 pada pukul 12.17 WIB.

Diberitakan Reuters, wabah coronavirus merenggut nyawa pertama di Hong Kong pada hari Selasa (4/2), ketika jumlah korban tewas di China daratan naik 65 menjadi 490 orang dan jumlah kasus meningkat menjadi 24.324 kasus. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bilang, masih mungkin untuk menahan penyebaran virus. Sekitar 99% kasus ada di China, yang telah direspons dengan tindakan karantina yang drastis dan injeksi 1,7 triliun yuan ke dalam sistem keuangan.

Salah satu alasan virus ini begitu mengkhawatirkan adalah masih banyak informasi yang belum diketahui tentang itu, termasuk tingkat kematian dan rute transmisi. Namun, yang menjadi semakin jelas adalah seberapa parah dampak ekonominya. Ketika orang-orang tetap di rumah, pabrik-pabrik tidak beroperasi dan toko-toko tutup di seluruh China. Para ekonom telah menurunkan prospek pertumbuhan mereka, dengan Louis Kuijs di Oxford Economics misalnya, memperkirakan pertumbuhan 5,4% pada tahun 2020.

Loading...