Negeri K-Pop Diserang Corona, Rupiah Berakhir Melemah Tajam

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (24/2) sore - www.wsj.com

JAKARTA – harus rela terjun bebas pada perdagangan Senin (24/2) sore setelah kasus terinfeksi wabah yang terus meningkat tajam di luar , terutama , memukul sebagian besar Asia. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda melemah 112 poin atau 0,82% ke level Rp13.872 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.863 per AS, terdepresiasi 86 poin atau 0,62% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.777 per AS. Di saat yang bersamaan, hampir semua mata uang Asia bergerak lebih rendah, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,93% menghampiri rupiah, disusul Korea Selatan yang anjlok 0,72%.

Mata uang Benua Kuning, seperti dilansir Bloomberg, harus melorot pada hari ini setelah jumlah kasus infeksi corona di luar China meningkat tajam selama akhir pekan kemarin. Bahkan, Korea Selatan meningkatkan level siaga penyakit menular negara ke level tertinggi setelah ada peningkatan kasus hingga 20 kali lipat. Di seluruh dunia, hingga pagi hari tadi, dilaporkan ada total 78.997 kasus dan sudah memakan 2.470 korban jiwa.

Chang Wei Liang, seorang pakar strategi makro di DBS Bank, mengatakan bahwa aksi penghindaran aset berisiko yang lebih luas mengingat penyebaran kasus virus corona di luar China memicu sebagai arus keluar sehingga membebani rupiah dan mata uang lainnya di Asia. Senada, San Attarangsan, seorang analis di Kasikornbank, Bangkok, bilang bahwa selama akhir pekan, situasinya memburuk dan ini membuat investor menghindari aset berisiko, sekaligus membebani pasar emerging market global.

Mata uang Asia yang mayoritas tergelincir karena penyebaran cepat virus corona di luar China, memicu kekhawatiran pandemi, sehingga membuat investor berbondong-bondong ke emas dan dolar AS untuk mencari aset yang lebih aman. Mata uang Paman Sam pun terpantau bergerak lebih tinggi, menguat 0,303 poin atau 0,31% ke level 99,565 pada pukul 12.22 WIB.

“Reaksi pasar terhadap coronavirus tampaknya berkembang, mulai membedakan mata uang yang rentan terhadap virus dari yang lain,” tulis analisis Barclays, dilansir Reuters. “Aset dolar AS memberikan daya tarik relatif. Karena, para ekonom kami memperkirakan tidak ada dampak virus corona pada pertumbuhan AS, dengan insiden domestik yang relatif sedikit dan ketergantungan yang rendah pada ekonomi China.”

Loading...