Virus Corona Terus Menggila, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (10/2) sore - www.liputan6.com

JAKARTA – gagal merangsek ke area hijau pada Senin (10/2) sore ketika wabah yang mengganas kembali memakan korban jiwa, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 37 poin atau 0,28% ke level Rp13.712 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.708 per , terdepresiasi 61 poin atau 0,44% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.647 per . Di saat yang bersamaan, mata uang Asia variatif terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,18% dialami yuan offshore China dan pelemahan terdalam sebesar 0,31% menghampiri rupiah.

Rupiah harus bergerak lebih rendah seiring dengan semakin meningkatnya aksi penghindaran aset berisiko akibat korban wabah corona yang terus bertambah. Hingga Senin pagi, angka kematian akibat wabah corona jenis baru mencapai 910 orang. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ) pun menyuarakan keprihatinan atas penyebaran corona yang telah memakan hampir 1.000 korban jiwa.

Dari pasar global, indeks dolar AS sedikit limbung pada hari ini setelah sebelumnya berakhir menyusul data pasar kerja yang solid memberikan tanda terbaru dari kekuatan AS. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,072 poin atau 0,07% ke level 98,612 pada pukul 12.57 WIB, setelah akhir pekan (7/2) lalu ditutup naik 0,188 poin atau 0,19% di posisi Rp98,684.

“Ada tema utama kekuatan greenback ketika data terus menunjukkan bahwa ekonomi AS bernasib lebih baik daripada yang lain,” ujar ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril. “Untuk saat ini, sampai kita memiliki kejelasan lebih lanjut tentang coronavirus dan dampak penuhnya pada kegiatan ekonomi, sulit untuk melihat dolar AS berada di bawah banyak tantangan.”

Pihak berwenang di China sedang mempersiapkan jutaan orang untuk kembali bekerja pada hari ini setelah liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang. Namun, dengan banyak kota China yang penuh keramaian berubah menjadi kota-kota yang nyaris mati selama dua minggu terakhir, para investor mengamati dengan saksama seberapa cepat ekonomi dapat bangkit kembali.

Loading...