Virus Corona Jadi Pandemi, Rupiah Tembus Level Rp14.500/USD

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk naik ke area hijau pada Kamis (12/3) sore, tertekan wabah yang baru saja ditetapkan menjadi pandemi oleh World Health Organization (WHO). Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.46 WIB, Garuda melemah tajam 148 poin atau 1,03% ke level Rp14.552 per AS.

Rabu (11/3) kemarin, WHO akhirnya menaikkan virus corona baru (COVID-19) dari epidemi menjadi pandemi global. Pengumuman itu disampaikan setelah wabah asal Wuhan, China tersebut menyebar ke sedikitnya 114 , dengan sebanyak delapan di antaranya melaporkan kasus infeksi lebih dari 1.000 orang.

“COVID-19 dapat dicirikan sebagai pandemi. Kami belum pernah melihat pandemi yang dipicu oleh virus corona,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. ”Beberapa negara telah menunjukkan kemampuan untuk menekan dan mengendalikan wabah. Namun, kami juga menegur para pemimpin dunia lainnya karena gagal bertindak cukup cepat atau cukup drastis untuk menahan penyebaran.”

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.490 per dolar AS, terdepresiasi 167 poin atau 1,16% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.323 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga bergerak lebih rendah, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,87% menghampiri won Korea Selatan.

Mata uang Negeri Ginseng, seperti dilansir Bloomberg, memimpin pelemahan kurs Asia akibat aksi penghindaran aset berisiko. Sentimen negatif diperparah kekecewaan seputar langkah-langkah yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, untuk membendung dampak dari wabah virus corona (COVID-19).

Berbicara di kantor kepresidenan pada Rabu (11/3) waktu setempat, Trump mengatakan akan membatasi perjalanan dari Eropa ke AS secara signifikan selama 30 hari ke depan. Ia menuturkan bahwa pembatasan tersebut akan mulai diberlakukan pada hari Jumat (13/3) tengah malam waktu AS kepada hampir seluruh negara di Benua Biru, kecuali Inggris.

“Mata uang emerging market di Asia melemah karena sentimen untuk aset berisiko global kembali berhati-hati,” ujar ahli strategi valas di Malayan Banking Bhd, Yanxi Tan. “Secara bersamaan, penangguhan perjalanan dari Eropa ke AS kemungkinan mengingatkan investor akan kerugian berkepanjangan yang akan ditimbulkan COVID-19 terhadap industri transportasi, akomodasi, dan ritel global.”

Loading...