Fokus Pasar Asia, Valuasi Uniqlo Mampu Ungguli Zara

Pakaian Kasual Uniqlo - jw-webmagazine.comPakaian Kasual Uniqlo - jw-webmagazine.com

TOKYO – Nilai Fast Retailing, induk dari jaringan kasual Uniqlo di Jepang, mencapai 10,87 triliun yen (103 miliar AS) pada akhir Selasa (16/2), menempatkannya di puncak industri pakaian global dalam hal kapitalisasi pasar. Ini sekaligus menandai pertama kalinya Fast Retailing mengungguli induk Zara, Inditex, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar 81,7 miliar euro (99 miliar dolar AS) pada penutupan Senin (15/2) dan 80,8 miliar euro pada akhir Selasa.

Dilansir dari Nikkei, fokus penjualan Fast Retailing tertuju di Asia, terutama China yang ekonominya telah pulih dengan cepat dari kemerosotan yang dipicu oleh serta kebijakan lockdown pemerintah. Spesialis pakaian kasual juga dipandang memiliki posisi yang baik untuk memanfaatkan perubahan kebiasaan , yang lebih cenderung berpakaian santai saat telework menjadi tren.

Fast Retailing mengoperasikan 2.298 toko Uniqlo di seluruh dunia pada bulan November 2020. Sebanyak 60% dari toko tersebut berlokasi di Asia di luar Jepang. Di 791 lokasi, China merupakan pasar terbesar kedua setelah Jepang, dengan 815 toko. Untuk tahun fiskal yang berakhir Agustus 2020, marjin operasi di China yang lebih besar, termasuk Hong Kong dan Taiwan, mencapai 14,4%. Sementara itu, 70% Zara berlokasi di AS dan Eropa, dan cuma memiliki sekitar 20% toko di Benua Kuning.

Investor juga menghargai upaya Fast Retailing di bidang digital. Perusahaan mengadopsi konsep ‘digital consumer retailing’ pada tahun 2016, yang melibatkan analisis data dari online dan toko dari tag IC yang dilampirkan ke semua barang dagangan. Fast Retailing telah bermitra dengan Google dan perusahaan lainnya untuk mengembangkan infrastruktur manufaktur yang didukung kecerdasan buatan.

Fast Retailing naik selama tujuh sesi berturut-turut untuk ditutup di level 102.500 yen pada hari Selasa, naik 3% dari sesi sebelumnya dan melampaui 100.000 yen untuk pertama kalinya. Namun, dalam hal pendapatan, Fast Retailing tetap berada di posisi ketiga dengan nilai sekitar 2 triliun yen (18,9 miliar dolar AS) untuk tahun fiskal sebelumnya. Inditex memimpin dengan 34,1 miliar dolar AS untuk tahun yang berakhir Januari 2020, sedangkan H&M asal Swedia menjadi runner up dengan 22,5 miliar dolar AS.

Sebagian besar produksi Inditex berada di Spanyol, meminimalkan volume inventaris mereka dengan memproduksi pakaian yang sesuai dengan logistik, dengan transportasi udara yang digunakan untuk mengirimkan kargo dalam waktu singkat. Karena mampu menjual barang dagangannya tanpa menawarkan diskon, perusahaan tersebut memperoleh keuntungan kotor yang besar.

Fast Retailing bersaing ketat dengan Inditex dalam hal penjualan lewat jalur online, area yang akan menentukan pertumbuhan. Pada tahun fiskal sebelumnya, perusahaan Jepang meningkatkan pangsa digital dari total penjualan menjadi 15,6%. Sementara itu, platform e-commerce menyumbang 14% dari pendapatan Inditex pada 2019, dan perusahaan berencana untuk menaikkan angka itu menjadi 25% pada tahun depan.

Pertumbuhan di Asia kemungkinan akan menentukan valuasi pasar kedua perusahaan ke depan. Analis Credit Suisse Securities di Jepang, Takahiro Kazahaya, memberikan Fast Retailing keunggulan terkait dengan pertumbuhan masa depan. “Ketika pijakan di Asia menjadi pertimbangan, Fast Retailing berada di depan dalam potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang,” katanya.

Loading...