Utang yang Menumpuk Jadi Tantangan China Atasi Perlambatan Ekonomi

Dua tantangan utama yang harus dihadapi China untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan adalah tingginya utang dan stabilitas renminbi. Itulah yang tersaji dalam forum diskusi tiga bulanan The Straits Times Global Outlook Forum yang diselenggarakan Rabu (10/5) kemarin.

“Ini perlambatan, perekonomian China tidak bisa diharapkan akan terus tumbuh 6-7 persen selamanya,” papar John Wong dari East Asian Institute at the National University of Singapore di depan 200 orang pada briefing tersebut. “Tidak ada perekonomian yang akan terus tumbuh pada tingkat tersebut.”

Namun ditambahkannya, kebijakan Xi Jinping bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan reformasi dan menyeimbangkan serta merestrukturisasi ekonomi. “Ekonomi China benar-benar sedang direstrukturisasi. Pertumbuhan dari sektor eksternal didorong oleh padat karya, sedangkan di dalam negeri didorong oleh padat modal,” kata Prof. Wong.

Namun, Prof. Wong, dan juga Kepala Strategi OCBC Group Lion Global Investors, Teo Joo Wah, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi China adalah tingginya utang dan stabilitas renminbi. Dalam catatan Teo, utang telah meningkat dari 125 persen menjadi 254 persen dalam 10 tahun terakhir. “Ketika ekonomi mendingin, utang yang menumpuk dapat menjadi kredit macet,” gurau Prof. Wong.

Mempertahankan kestabilan renminbi, yang memengaruhi ekspor, juga cukup sulit, mengingat PDB yang lemah serta pertumbuhan , pelarian modal, dan yang lebih kuat. Teo mencatat lebih dari 600 miliar mengalir keluar dari China pada tahun lalu, sementara renminbi itu mendevaluasi 5 persen.

Perekonomian China hanya tumbuh 6,9 persen pada tahun lalu, atau terendah dalam 25 tahun terakhir. Sementara, investasi hanya 8 persen, jauh di bawah angka 20 persen yang terjadi tahun-tahun sebelumnya.

Loading...