Utang Swasta Tinggi, Ekonomi China Naik Perlahan Usai Pandemi COVID-19

Ekonomi China naik perlahan usia pandemi COVID-19 - medcom.id

BEIJING – Pemerintah kini bersiap mengangkat kembali perekonomian mereka setelah sempat terpuruk karena pandemi . Namun, konsumsi di Negeri Tirai Bambu diprediksi hanya meningkat perlahan, bukan hanya karena tantangan untuk mengembalikan yang mengalami kontraksi sebesar 6,8% selama kuartal pertama 2020, melainkan juga mengembalikan rumah tangga yang sangat besar.

Dilansir dari Deutsche Welle, dalam jajak pendapat yang dilakukan Oktober tahun lalu, laporan People’s Bank of China menunjukkan bahwa mereka memiliki utang yang tinggi, bahkan sebelum krisis coronavirus, yang berarti bank cuma memiliki kelonggaran yang lebih sedikit. Sekitar setengah dari 30.000 rumah tangga China yang disurvei berutang, dengan tingkat utang rata-rata 72.000 , dua pertiga-nya adalah ke hipotek. Ini berarti bahwa 60% dari aset rumah tangga pribadi diinvestasikan dalam properti, dan hanya seperlima adalah investasi tunai.

Implikasi politik utama dari jajak pendapat ini, bank sentral mungkin bermaksud untuk mengisyaratkan bahwa langkah-langkah pemerintah sejauh ini tidak cukup untuk meningkatkan ekonomi setelah virus corona. Menurut bank Swiss, UBS, Beijing telah memberlakukan program stimulus senilai 4% dari PDB, dibandingkan dengan yang setara dengan 10% dari PDB setelah krisis keuangan dunia. Pada 2016, langkah-langkah stimulus pemerintah berjumlah 2% dari output ekonomi negara.

“Satu pihak mungkin berpendapat bahwa orang China memiliki cadangan lebih banyak daripada orang AS. Namun, beberapa orang mungkin berpendapat, itu seharusnya berarti bahwa utang negara tidak boleh dibiarkan naik secara substansial sekali lagi,” ujar Frank Sieren, kolumnis Deutsche Welle yang sudah tinggal di China selama lebih dari 25 tahun. “Yang lain mungkin bersikeras bahwa pengeluaran pemerintah sekarang lebih penting daripada sebelumnya, untuk meningkatkan ekonomi dan menghindari tagihan yang lebih berat di masa depan.”

Yang jelas adalah bahwa ekonomi Tiongkok menghadapi tantangan besar setelah krisis coronavirus. PDB kuartal pertama mengalami kontraksi 6,8%, angka terburuk dalam beberapa dekade. Meningkatkan pengeluaran konsumen harus diprioritaskan karena sektor telah lama menjadi motor penggerak pertumbuhan China, terhitung sekitar 60% dari keseluruhan output. Pada bulan Januari dan Februari, penjualan ritel anjlok hingga 20%, sedangkan penurunan pada bulan Maret masih sekitar 16%.

“Jadi, adalah adil untuk mengatakan bahwa kemungkinan terburuk telah berakhir dan bahwa perekonomian perlahan-lahan kembali ke jalurnya,” sambung Sieren. “Namun, tidak seperti setelah epidemi SARS, konsumsi tidak tiba-tiba meningkat, itu akan naik secara bertahap. Orang-orang tetap berhati-hati, paling tidak karena kekhawatiran akan infeksi gelombang kedua.”

Menurut sebuah studi oleh Southwestern University of Finance and Economics, China, berdasarkan jajak pendapat dari 28.000 rumah tangga, lebih dari setengah responden yang disurvei berencana untuk menabung lebih banyak dan menghabiskan lebih sedikit setelah pandemi mereda. Sekitar 40% mengatakan mereka tidak akan mengubah kebiasaan mereka, dengan hanya 9% berencana menghabiskan lebih banyak daripada sebelum pandemi.

“Tidak seperti pemerintah di Eropa, AS, dan Jepang, yang telah meluncurkan rencana stimulus komprehensif, Beijing akan menggunakan pendekatan scattergun untuk mengembalikan perekonomian ke jalurnya,” tambah Sieren. “Mereka telah mengumumkan keringanan pajak, pemotongan suku bunga, dan juga membayar kembali beberapa kontribusi jaminan sosial. Pemerintah pun menyetujui voucher konsumen dan bantuan likuiditas untuk perusahaan.”

Akhir pekan yang panjang sedang dibahas di beberapa provinsi untuk meningkatkan pariwisata domestik, ketika pendapatan diperkirakan turun 69%. Namun, tidak mungkin ada proyek infrastruktur besar. Tampaknya, kali ini China akan menahan diri untuk tidak meningkatkan ekonomi global dengan mengambil tingkat utang yang lebih tinggi. “Beijing sedang berusaha mencapai efek terbesar dengan melakukan sesedikit yang benar-benar diperlukan, setidaknya untuk saat ini,” pungkas Sieren.

Loading...