Utang Pemerintah Negara Berkembang Asia Sentuh 50% dari PDB

Utang Pemerintah Negara Berkembang Asia Sentuh 50% - jakartaglobe.idUtang Pemerintah Negara Berkembang Asia Sentuh 50% - jakartaglobe.id

SINGAPURA – Utang pemerintah di negara-negara mencapai 50% dari domestik bruto (PDB) pada kuartal ketiga tahun lalu, menurut perkiraan Institute of Finance (IIF). Peningkatan lebih lanjut dalam utang publik berpotensi menimbulkan masalah jika global tiba-tiba berubah menjadi lebih buruk. Dua tahun ke depan bisa genting, dengan beberapa ekonom memprediksi pertumbuhan lebih lambat.

Meski utang pemerintah di negara-negara berkembang Asia merangkak naik, dilansir Nikkei, itu tetap rendah dibandingkan dengan 223,1% dari PDB Jepang dan 100,8% di AS. “Utang publik yang relatif rendah memberi kawasan itu lebih banyak penyangga terhadap potensi penurunan ekonomi global, memungkinkan para pembuat kebijakan menggunakan kebijakan fiskal ekspansif untuk mendukung permintaan,” kata kepala penelitian ekonomi Asia di HSBC, Frederic Neumann.

Sementara itu, kepala ekonom di Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3, Hoe Ee Khor, mengatakan bahwa peningkatan kecil ini mencerminkan konsolidasi oleh sektor publik, serta pergeseran permintaan ke sektor swasta, di negara-negara seperti China, Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. “Wilayah Asia Timur biasanya berhati-hati dalam hal pengelolaan keuangan publik,” kata Hoe.

Gabungan utang publik Asia yang relatif rendah dan utang swasta yang relatif tinggi adalah bagian dari gambaran yang lebih besar tentang pinjaman yang melonjak di seluruh dunia. Utang global mencapai 244 triliun dolar AS pada kuartal ketiga tahun lalu, menurut IIF. Utang korporasi non-finansial di negara berkembang melonjak 5%, secara tahun-ke-tahun, menjadi 124% dari PDB, dibandingkan dengan 101,6% di Jepang dan 72,6% di AS.

Menurut perkiraan IMF, 40% dari keseluruhan kenaikan utang di seluruh dunia selama satu dekade terakhir berasal dari China. Penyebab terbesar yang perlu dikhawatirkan adalah pertumbuhan utang perusahaan di luar sektor keuangan di negara itu, yang diperkirakan IIF mencapai 157% dari PDB pada kuartal ketiga.

Kekhawatiran tentang naiknya tingkat utang China menimbulkan kekhawatiran di tempat lain di Asia. Meskipun sebagian besar tingkat utang pemerintah Asia relatif rendah, tingkat utang dari Hong Kong, India, Pakistan, dan Singapura berkisar antara 67% hingga 112% (dari PDB), yang berpotensi memperketat ruang kebijakan para pemerintah.

Meningkatnya utang publik di Malaysia telah mendorong Perdana Menteri Mahathir Mohamad untuk menghentikan sementara -proyek pelabuhan dan kereta api yang didukung China. Selain itu, muncul kekhawatiran tentang ‘perangkap utang’ yang berasal dari pinjaman yang diambil di bawah Inisiatif Belt and Road Beijing, sebuah besar.

“Untuk menyelesaikan masalah utang, pertama-tama pemerintah harus membayar kembali utang-utang bisnis,” ujar mantan kepala ekonom di China Agriculture Bank, Profesor Xiang Songzuo. “Perusahaan-perusahaan milik negara harus membayar kembali utang-utang mereka kepada perusahaan swasta dan perusahaan swasta besar harus membayar utang mereka ke unit yang lebih kecil.”

Loading...