Utang kepada China, Malaysia Peringatkan Filipina

Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia - aceh.tribunnews.comMahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia - aceh.tribunnews.com

MANILA – , Mahathir Mohamad, pada hari Kamis (7/3) kemarin memperingatkan Filipina agar tidak terlalu ‘berutang budi’ kepada China. Seperti diketahui, Manila baru saja menarik dana dari Negeri Tirai Bambu untuk kebutuhan yang sangat dibutuhkan tersebut.

Diberitakan Nikkei, pada awal pekan ini, Senat Filipina melakukan penyelidikan atas dan syarat-syarat yang ditawarkan oleh China saat administrasi Presiden Rodrigo Duterte ingin meningkatkan infrastruktur negara. China telah membuka batas 9 miliar AS ke Filipina selama kunjungan kenegaraan Duterte ke Beijing pada 2016 kemarin. Dari jumlah itu, setidaknya 300 juta AS telah disepakati dalam pinjaman untuk mengembangkan bendungan dan irigasi.

“Jika Anda meminjam uang dalam jumlah besar dari Tiongkok dan Anda tidak dapat membayar, Anda tahu ketika seseorang adalah peminjam, ia berada di bawah kendali pemberi pinjaman,” tutur Mahathir kepada channel berita ABS-CBN sebelum pertemuan dengan Duterte. “Jadi, kami harus sangat berhati-hati dengan itu.”

Mahathir, yang berada di ibukota Filipina untuk kunjungan resmi selama dua hari, mengesampingkan dua proyek yang didanai China, termasuk kereta api senilai 20 miliar dolar AS, segera setelah ia terpilih menjadi penguasa, dengan menyebutkan syarat-syarat yang tidak menguntungkan bagi Malaysia. Langkahnya merupakan pukulan besar bagi program infrastruktur Belt and Road Beijing.

Ditanya tentang kekhawatiran regional atas ‘jebakan utang China’, Mahathir mengatakan bahwa itu adalah kekhawatiran negara, yang dapat mengatur atau membatasi pengaruh ini dari China. Dalam wawancara yang sama, pemimpin berusia 93 tahun itu juga berbicara tentang bahaya masuknya pihak asing, dengan menuturkan bahwa itu ‘mungkin mengganggu persamaan politik negara’.

Lebih dari 300.000 orang China telah diberikan izin kerja di Filipina sejak 2016, ketika Duterte memenangkan kursi kepresidenan dan memeluk Negeri Panda sebagai mitra utama meskipun ada sengketa di Laut China Selatan. Menurut Mahathir, jika sejumlah besar orang asing datang untuk tinggal di suatu negara dan memengaruhi ekonominya, maka Anda harus memikirkan kembali apakah itu baik atau buruk, atau batasan yang harus Anda berikan pada mereka.

Selama pertemuan kedua pemimpin, baik Duterte maupun Mahathir bersumpah untuk memastikan kebebasan navigasi di Laut China Selatan, lokasi tempat China telah membangun tujuh pulau buatan dengan infrastruktur militer. China secara rutin ‘membanting’ AS karena berlayar ke daerah sengketa, dengan Filipina dan Malaysia juga mengajukan klaim teritorial.

Mahathir juga berjanji untuk mendukung perang melawan terorisme di bawah kerja sama keamanan trilateral dengan Indonesia yang dibangun pada Juni 2017, terkait pengepungan lima bulan oleh gerilyawan Islamic State di Filipina selatan. Pemimpin Malaysia tidak lupa mengucapkan selamat kepada Filipina, yang menghasilkan pembentukan Bangsamoro, daerah otonom baru di selatan negara yang bermasalah.

Loading...