Usai Teror, Sekolah Selandia Baru Kembali Larang Jilbab

Sekolah Selandia Baru Kembali Larang Jilbab - www.islampos.comSekolah Selandia Baru Kembali Larang Jilbab - www.islampos.com

AUCKLAND – Para siswa di sebuah putri terkemuka di Auckland, , baru-baru ini kembali dilarang untuk mengenakan jilbab ketika bersekolah, meski ada seruan untuk mendukung komunitas di tersebut. Larangan berjilbab ini datang kurang dari satu minggu setelah serangan teror di Christchurch yang menewaskan 50 jamaah .

Dilansir TRT World, Kepala Diocesan School for Girls, Heather McRae, mengatakan kepada staf bahwa jilbab Islam melanggar aturan berpakaian dan tidak diizinkan. Seorang guru, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan pengumuman itu dibuat setelah ada kekhawatiran yang diajukan oleh seorang kolega tentang beberapa siswa Muslim di sekolah itu yang tidak bisa memakai jilbab.

Dalam briefing sekolah, menurut keterangan guru tersebut, McRae mengatakan kepada staf bahwa kebijakan itu bukanlah sesuatu yang baru, dan dia mengharapkan mereka untuk memberlakukannya dan tidak melawannya. Para guru sendiri hanya bisa ‘terpana’ dengan pengumuman dari McRae. “Hanya ada keheningan, dan saya mendapat perasaan bahwa orang-orang terkejut,” kata guru itu.

Para staf juga diberi tahu bahwa aturan pakaian sekolah hanya memungkinkan barang-barang simbol atau budaya kecil, seperti salib, untuk dikenakan di bawah seragam siswa dan tidak terlihat. Karena itu, jilbab akan melanggar aturan tersebut. Sayangnya, Kepala Sekolah Heather McRae tidak menanggapi berulang TRT World untuk berkomentar.

“Kebijakan yang kami kembangkan untuk membantu menciptakan rasa kesatuan dan keluarga dan dikenakan dengan bangga oleh para siswa,” tulis rilis resmi sekolah. “Seperti kebanyakan seragam sekolah, ada peraturan untuk memastikan aturan ditegakkan, seperti tidak memakai perhiasan atau cat kuku, panjang rok, persyaratan untuk mengikat rambut panjang dan mengenakan blazer sekolah di luar halaman sekolah, gaya sepatu, dan seterusnya.”

Diocesan sendiri adalah sekolah swasta Anglikan di salah satu pinggiran kota Auckland, kota terbesar di Selandia Baru. Didirikan pada tahun 1903, institusi ini merupakan salah satu lembaga top di negara tersebut. Sementara, McRae telah menjadi kepala sekolah sejak tahun 2009 lalu, dan saat ini juga merupakan Ketua Dewan Eksekutif Sekolah Independen Selandia Baru.

Seperti diketahui, lima puluh orang terbunuh dan banyak yang terluka ketika seorang pria bersenjata Australia yang mendukung cita-cita supremasi anti-Muslim dan kulit putih menyerang para jamaah di dua masjid di Christchurch. Itu adalah penembakan massal terburuk dalam sejarah Selandia Baru, dan telah membuat negara itu sedih dan terguncang.

“Siswa yang pertama kali menemukan kebijakan jilbab diminta untuk membaca sebuah puisi yang dia tulis tentang Islamofobia di sebuah majelis sekolah pada hari Rabu (20/3) kemarin untuk memperingati serangan itu,” sambung sang guru. “Puisi itu berjudul ‘Living beneath the veil’, dan menantang stereotip yang ditujukan pada perempuan Muslim dalam liputan media.”

Salinan puisi itu tampaknya telah diterbitkan di blog situs web sekolah dua hari yang lalu dan telah dibagikan di Facebook, tetapi tautan ke halaman tersebut sekarang telah dihapus. Dukungan juga dilakukan melalui kampanye ‘National Scarf Day’, mendorong wanita di Selandia Baru untuk mengenakan jilbab di depan umum sebagai bentuk dukungan untuk wanita Muslim.

Loading...