Unilever Raup Keuntungan Maksimal di Pasar Negara Berkembang

Unilever mengeruk keuntungan yang maksimal di berkembang. Bagi raksasa -Belanda itu, negara berkembang merupakan sumber pendapatan utama pada saat di negara maju melambat. negara berkembang menyumbang 58 persen dari omzet Unilever yang sebesar 53,3 miliar atau 60,2 miliar AS pada tahun lalu.

Di India, produsen perlengkapan mandi tersebut meraih laba bersih dua kali lipat dalam lima tahun terakhir atau sebesar 40,77 miliar rupee (610 juta dolar AS), atau tumbuh sekitar 6 persen pada fiskal baru. Perusahaan juga telah membuat pengeluaran yang rendah untuk modal belanja, penelitian, dan .

“Kesuksesan Unilever di India sebagian besar karena akuisisi perusahaan lokal, sebagaimana dicontohkan oleh induknya,” papar Analis Senior di HDFC Securities Institutional Research, Sachin Bobade. “Perusahaan kemudian menghabiskan lebih banyak waktu pada pemasaran dan periklanan untuk meningkatkan pertumbuhan.”

Pola yang sama juga dilakukan Unilever di . Unilever merupakan perusahaan terbesar penghasil barang keperluan rumah tangga, dengan sekitar 1.000 produk di 40 merek. Banyak dari produk tersebut menduduki peringkat teratas di kategori masing-masing.

Unit Indonesia mampu mempertahankan margin kotor melebihi 50 persen pada tahun , meski daya beli konsumen melambat. Arus kas yang cukup juga memungkinkan perusahaan untuk membiayai investasi besar tanpa meminjam banyak modal. Agustus lalu, Unilever membuka pabrik bumbu di pinggiran Jakarta dengan nilai investasi Rp820 miliar atau setara 61,6 juta dolar AS.

Unilever Indonesia juga membagikan dividen Rp5,783 triliun di tahun 2015 atau 99 persen dari laba bersih. Sementara, return on equity melebihi 120 persen dalam empat tahun terakhir, salah satu yang tertinggi di antara perusahaan-perusahaan Asia.

Loading...