UEA Danai Tentara Bayaran Rusia di Libya, Klaim Pentagon

Uni Emirat Arab Danai Tentara Bayaran - www.cfr.orgUni Emirat Arab Danai Tentara Bayaran - www.cfr.org

VIRGINIA – Uni Emirat Arab (UEA) telah memberikan bantuan kepada tentara bayaran di , demikian menurut klaim Badan Intelijen Pertahanan AS yang dilaporkan oleh majalah Foreign Policy. Wagner, tentara bayaran tersebut, mendukung milisi Haftar yang ilegal dan dipimpin panglima perang Khalifa Haftar, untuk melawan yang didukung PBB.

Dikutip dari TRT World, Departemen Pertahanan AS mengatakan, UEA telah memberikan bantuan keuangan kepada tentara bayaran Rusia, Wagner. Dokumen Pentagon, yang dilaporkan oleh foreignpolicy.com, menunjuk pada sekutu lama AS itu sebagai pemberi dana. yang dirilis minggu lalu disiapkan oleh kepala inspektur Pentagon yang bertanggung jawab atas operasi anti-terorisme di Afrika.

Grup Wagner, yang didirikan oleh Yevgeniy Viktorovich Prigojin, seorang yang dikenal karena kedekatannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dituduh melakukan operasi di zona konflik untuk intelijen Rusia. Meski demikian, Kremlin terang-terangan menyangkal bahwa kelompok itu memiliki hubungan dengan .

Temuan Pentagon ini dapat memperumit hubungan dekat antara AS dan sekutunya di Teluk, karena Partai Demokrat di Kongres terus berkampanye menentang rudal, jet tempur F-35, dan tak berawak senilai 23 miliar dolar AS oleh pemerintahan Donald Trump ke Abu Dhabi. Sekitar 29 organisasi kontrol senjata dan hak asasi manusia telah menandatangani surat yang menentang dan meminta Kongres untuk memblokir kesepakatan tersebut.

Klaim bahwa UEA menggunakan tentara bayaran Rusia untuk menyembunyikan perannya dalam konflik Libya telah lama disuarakan oleh pengamat di negara tersebut. Libya sendiri telah terperosok dalam kekerasan sejak jatuhnya diktator Muammar Gaddafi pada 2011 lalu, dalam sebuah pemberontakan yang didukung NATO, dengan serangkaian kelompok bersenjata dan dua pemerintahan bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Pemerintah Kesepakatan Nasional mendominasi Tripoli dan sisi barat, sedangkan bagian timur negara itu dikendalikan oleh panglima perang Haftar. Menyusul upaya Haftar selama setahun tetapi pada akhirnya gagal untuk merebut Tripoli, kedua belah pihak menandatangani kesepakatan gencatan senjata resmi pada bulan Oktober kemarin, mendorong kehidupan baru ke dalam upaya yang dipimpin PBB untuk solusi politik atas konflik tersebut.

Loading...