Tutup Tahun 2020, Rupiah Berakhir Menguat 0,57%

Rupiah - validnews.coRupiah - validnews.co

JAKARTA – mampu menutup perdagangan Rabu (30/12) sore atau yang terakhir di tahun 2020 dengan manis, memanfaatkan pelemahan yang terus dialami imbas stimulus fiskal Negeri Paman Sam. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 80 poin atau 0,57% ke level Rp14.050 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menempatkan kurs tengah berada di posisi Rp14.105 per , menguat 64 poin atau 0,45% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.169 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,49% menghampiri won Korea Selatan.

“Penguatan nilai tukar rupiah masih didukung sentimen penandatanganan stimulus jumbo oleh pemerintah AS untuk menahan pelemahan ekonomi akibat pandemi -19,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir dari Bisnis. “Sentimen tersebut telah melemahkan dolar AS karena semakin tinggi jumlah stimulus, akan meningkatkan likuiditas di .”

Memang, dolar AS harus jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua tahun pada hari Rabu karena pedagang memandang positif pemeriksaan stimulus AS dan mempertahankan taruhan bahwa bantuan keuangan tambahan masih mungkin terjadi. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,147 poin atau 0,16% ke level 89,847 pada pukul 15.56 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, dolar AS telah jatuh sejak Presiden Donald Trump menandatangani bantuan pada hari Minggu (27/12) lalu, karena lebih banyak stimulus untuk ekonomi terbesar di dunia akan mengurangi permintaan aset safe haven. Sementara ukuran pembayaran bantuan masih belum pasti, banyak analis mengatakan gerak greenback masih tersendat pada tahun depan karena presiden terpilih Joe Biden diperkirakan mendorong lebih banyak lagi dukungan ekonomi.

Pertikaian menit terakhir telah menimbulkan keraguan pada beberapa detail paket bantuan AS. Meski begitu, banyak analis mengatakan pemerintah AS akan terus meluncurkan stimulus fiskal dalam beberapa bentuk karena gelombang kedua infeksi virus corona mengancam perekonomian. Selain itu, banyak sudah menanti pemerintahan baru di bawah Joe Biden ketika dia dilantik pada 20 Januari 2021.

Loading...