Tutup Dagang, Rupiah Berbalik Melemah Jelang Risalah FOMC Meeting

Rupiah harus terpeleset ke zona merah pada penutupan dagang Rabu (21/2) ini ketika indeks dolar AS bergerak menguat jelang rilis risalah meeting. Menurut catatan Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda menyelesaikan hari ini dengan pelemahan tipis sebesar 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.618 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir melemah 55 poin atau 0,41% di posisi Rp13.615 per dolar AS pada tutup dagang Selasa (20/2) kemarin. Namun, pagi tadi mata uang NKRI berhasil bangkit dengan dibuka menguat 37 poin atau 0,27% ke level Rp13.578 per dolar AS. Sayangnya, spot tidak mampu mempertahankan laju di teritori positif hingga akhir dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.582 per dolar AS, terdepresiasi 9 poin atau 0,06% dari sebelumnya di posisi Rp13.573 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,39% dialami yen Jepang.

Dari , indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang pada hari Rabu ini, ketika pedagang mengabaikan spekulasi bearish terhadap mata uang tersebut dan menanti rilis risalah FOMC meeting pada Kamis pagi WIB. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,120 poin atau 0,13% menuju level 89,836 pada pukul 10.34 WIB.

“Beberapa pelaku pasar baru-baru ini membeli yen Jepang, menempatkan opsi untuk pelemahan greenback, dan pasar sekarang tampak ‘terlindungi dengan baik’ terhadap risiko penurunan dalam mata uang AS,” papar head of sales trading di Asia Pacific for Saxo Markets di Singapura, Tareck Horchani, seperti dikutip Reuters. “Ini terutama adalah posisi clean-up menurut saya.”

Pada hari Rabu ini, mulai mengalihkan perhatian mereka menuju pada risalah rapat kebijakan Federal Reserve terakhir akhir Januari lalu. Di samping itu, para pedagang juga mencermati lelang utang pemerintah AS yang besar pada minggu ini untuk memperoleh petunjuk mengenai selera internasional terhadap aset-aset milik AS.

“Sebuah nada hawkish pada risalah rapat tersebut dapat mendorong pasar untuk memperkirakan risiko kenaikan suku bunga yang lebih cepat dan membantu mengangkat dolar AS,” sambung Horchani. “Posisi di mata uang EM (emerging market) saat ini cukup kuat, cukup besar, dan kita bisa mendapatkan rally dolar AS yang lebih besar terhadap EM.”

Loading...