Diblokir Sekutu Barat, Turki Beralih ke Korsel Kembangkan Tank Tempur

Ilustrasi: pemimpin Turki dan Korea Selatan (sumber: aa.com)Ilustrasi: pemimpin Turki dan Korea Selatan (sumber: aa.com)

ISTANBUL – Turki saat ini tengah mencari pemasok dan mitra pertahanan baru dari hingga Ukraina untuk mengatasi ‘ diam-diam dan tersirat’ oleh sekutu mereka di Barat serta Jepang. Defense News melaporkan bahwa produsen kendaraan lapis baja Turki, BMC, yang sedang mengembangkan proyek untuk membangun tank tempur Altay, telah menandatangani kesepakatan awal dengan Doosan Group dan S&T Dynamics asal untuk membeli mesin dan sistem transmisi mereka.

Dikutip dari Nikkei, Ankara sebenarnya telah mendekati MTU asal Jerman untuk memasok mesin dan RENK untuk mendatangkan sistem transmisi, tetapi gagal mencapai kesepakatan karena pembatasan Berlin pada ekspor senjata ke Turki imbas intervensi negara tersebut di Suriah. Untuk menghindari pembatasan ekspor Jerman ke Turki, perusahaan Korea Selatan akan melokalkan produksi beberapa sistem paket daya Korea Selatan, yang mencakup suku cadang Jerman.

Pada 2013 lalu, Turki sempat melakukan pendekatan kepada pemerintah Jepang dan Mitsubishi Heavy Industries untuk membantunya mengembangkan tank Altay. Namun, karena Turki bersikeras mempertahankan hak untuk mengekspor tank ke negara-negara sahabat, seperti Azerbaijan dan Pakistan, yang akan melanggar prinsip Jepang tentang ekspor alutsista, negosiasi pada akhirnya berakhir dengan kegagalan.

Turki memiliki tentara terbesar kedua di di belakang AS, dan negara itu menjadi semakin tegas dalam kebijakan luar negerinya dan tidak takut untuk menggunakan kekuatan militer mereka. Tentara Turki telah terlibat di Suriah, Libya, Irak, dan baru-baru ini di Azerbaijan melalui pasokan senjata berat dan pelatihan militer. Angkatan laut Ankara juga menghadapi negara-negara anggota Uni Eropa, Yunani dan Siprus, atas sengketa perbatasan laut.

Keputusan Turki untuk sistem pertahanan rudal canggih Rusia, S400, setelah meninggalkan opsi China, membuat perselisihan mereka dengan AS semakin dalam. Desember 2020 kemarin, AS menjatuhkan sanksi ringan pada badan pengadaan dan pengembangan pertahanan teratas Turki, Presidency of Defense Industries, dan eksekutif puncaknya. Pada titik ini, Washington telah mengeluarkan Turki dari program jet tempur siluman F-35 karena masalah yang sama.

Ilustrasi: militer Turki (sumber: ispionline.it)
Ilustrasi: militer Turki (sumber: ispionline.it)

Sebelumnya, sejak 2018, AS telah memblokir ekspor mesin ke Turki gara-gara kesepakatan 1,5 miliar AS untuk memasok Pakistan dengan helikopter militer yang telah dikembangkan bersama dengan perusahaan pertahanan Italia. “Sekutu dan teman bersikeras untuk tidak memberi kami materi yang telah kami bayar,” ujar Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, beberapa waktu lalu.

Menurut analis industri pertahanan, Arda Mevlutoglu, sanksi AS akan berdampak besar pada industri pertahanan Turki. Ia mengatakan, sekarang ada risiko bahwa perusahaan pertahanan Barat mungkin menahan diri untuk tidak berbisnis dengan Turki. “Mungkin tidak mudah untuk menemukan alternatif dalam jangka pendek dan sektor ini akan menghadapi kerusakan serius,” katanya.

Setelah AS menolak penjualan drone militer ke Turki, Ankara mengembangkan versi mereka sendiri, yang sekarang digunakan di Libya, Suriah, dan dalam konflik Azerbaijan-Armenia. Ankara juga baru-baru ini menjual drone tersebut ke Ukraina. Ukraina sendiri memiliki warisan Uni Soviet dalam memproduksi helikopter, pesawat terbang, dan mesin rudal jelajah. Turki juga mengandalkan kemitraan Ukraina dalam produksi mesin dan transmisi untuk proyek pertahanannya.

Produsen kendaraan udara tak berawak Turki, Baykar Defense, akan mengirimkan drone bersenjata generasi berikutnya yang dilengkapi dengan mesin turboprop ganda Ukraina. Karena penggunaan drone Turki dalam konflik Armenia-Azerbaijan tahun lalu, pemerintah Kanada telah mengumumkan penangguhan izin ekspor untuk komponen terkait drone ke Turki. Perusahaan Kanada sebelumnya sempat menyediakan mesin, optik drone, dan sistem penargetan laser.

“Seperti yang terlihat dalam kasus Kanada, Turki menghadapi reaksi yang tidak dapat diterima dari sekutu NATO-nya, sehingga negara itu beralih ke alternatif untuk menghasilkan transfer dan opsi produksi bersama,” papar direktur program keamanan dan pertahanan di Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Turki, Can Kasapoglu. “Namun, transfer pertahanan kelas atas adalah masalah geopolitik dengan kepentingan kritis dan tidak ada mudah untuk maju.”

Loading...