Minat Turis China ke Bali Tinggi, Bisa Selamatkan Pariwisata Indonesia?

Berkunjung ke Bali - www.water-sport-bali.comBerkunjung ke Bali - www.water-sport-bali.com

DENPASAR – Melonjaknya minat wisatawan asal China untuk berkunjung ke Bali mungkin dapat membantu menyelamatkan sektor pariwisata Indonesia pada tahun depan, setelah sebelumnya harus terpuruk akibat pembatasan imbas pandemi corona. Bali Tourism Board, asosiasi operator pariwisata setempat, mengharapkan 2 juta wisatawan asal Negeri Panda datang ke Pulau Dewata pada tahun depan, jauh melebihi pengunjung dari negara lain.

Dilansir dari Nikkei, turis asal China telah menjadi sumber kedatangan pengunjung internasional terbesar pada tahun 2017 ketika 1,35 juta pelancong Negeri Tirai Bambu mengunjungi pulau itu. Angka tersebut sekaligus mengalahkan pengunjung Australia sebagai sumber wisatawan terbesar di Bali untuk pertama kalinya.

“Kami percaya mereka akan tertarik ke Bali dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelumnya karena orang-orang China tidak lagi merasa sangat aman di Amerika atau Eropa karena rasisme dan tingginya tingkat ,” tutur kepala kantor Bali Tourism Board, David Kurniawan. “Asia Tenggara akan menjadi tujuan pilihan mereka, setidaknya untuk tahun 2021, dengan Thailand dan Bali akan mendapatkan porsi terbesar dari destinasi mereka.”

Sementara hingga 2 juta pengunjung Tiongkok dalam satu tahun mungkin menghidupkan kembali ekonomi Bali yang bergantung pada pariwisata, tidak semua warga senang dengan kedatangan turis asal China. Analisis tahun 2018 oleh Bali Tourism Board tentang apa yang disebut ‘wisata nol dolar’, menemukan bahwa pada beberapa tur, orang menghabiskan waktu hanya seharga 60 dolar AS untuk penerbangan dan , dengan sebagian besar dari liburan mereka dikontrak ke toko-toko souvenir milik China.

“Ini adalah penyebab ketidaksepakatan antara Bali dan rencana Kementerian Pariwisata untuk mendatangkan 20 juta turis ke Indonesia setiap tahun,” kata manajer pengembangan aplikasi resmi Bali, Christopher Burns. “Tidak masalah jika Anda mendatangkan 200 juta turis jika pengeluaran per orang super rendah.”

Namun, menurut Kurniawan, karena kebutuhan yang berkelanjutan untuk menjauhkan diri dari orang banyak, untuk sementara waktu, wisata murah akan menghilang, setidaknya pada paruh pertama 2021, karena orang-orang di segmen itu kehilangan pekerjaan atau harus mengalami pemotongan gaji. Sebaliknya, kunjungan segmen menengah ke atas akan meningkat karena mereka takut dengan COVID-19. “Itu berarti, mereka akan lebih suka tinggal di villa daripada hotel, dan Bali punya ribuan vila,” tambahnya.

Norma budaya yang berbeda juga menjadi perhatian bagi beberapa operator tur Bali, yang khawatir bahwa sejumlah besar wisatawan Tiongkok akan menunda kunjungan dari negara lain. Yulie Su, seorang penduduk Shanghai yang menjadikan kekayaannya sebagai kapitalis ventura di usia dua puluhan, mengerti kenapa banyak orang Barat berpikir turis China itu kasar. “Namun, mereka bahkan tidak tahu apa yang mereka lakukan adalah salah,” katanya.

“Liburan kami sangat singkat, hanya tiga atau empat hari, jadi kami tidak peduli berapa biayanya. Beberapa resor mewah di Bali sangat bagus, tetapi secara keseluruhan Bali tidak berkembang dengan baik,” sambung Yulie. “Standar kebersihan dan polusi sebenarnya lebih buruk daripada di China. Jika mereka ingin mengenakan lebih banyak, mereka harus mengembangkan lebih banyak.”

Yulie juga skeptis bahwa wisatawan Tiongkok akan kembali ke Bali dalam jumlah besar pada tahun 2021. Meski Bali adalah salah satu favorit tujuan mereka daripada Eropa atau Amerika, tetapi ketakutan akan gelombang kedua virus corona akan tetap ada. Bahkan, ketika perbatasan terbuka, orang China akan berpikir dua kali. “Kami adalah orang yang sangat berhati-hati,” tambah Yulie.

Di sisi lain, otoritas setempat juga berhati-hati memasuki uji coba untuk pariwisata domestik yang akan dimulai pada bulan Agustus mendatang. Gek Indah Dispara, kepala pemasaran di Kantor Pariwisata Pemerintah Bali, menuturkan bahwa pihaknya mengharapkan banyak orang dari datang untuk menginap dan melihat apakah hotel dan restoran dapat menyediakan layanan sesuai dengan peraturan kesehatan yang baru. “Jika semuanya berjalan baik, lambat laun kami akan terbuka untuk wisatawan internasional,” jelasnya.

Loading...