Tunggu Data Inflasi, Rupiah Dibuka Melemah Tipis

rupiah melemah

harus membuka perdagangan awal pekan (2/10) ini di zona merah ketika pelaku menantikan rilis data inflasi Indonesia bulan September 2017. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, Garuda mengawali dengan melemah tipis 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.478 per AS. Sebelumnya, spot berada di posisi Rp13.472 pada tutup dagang Jumat (29/9) kemarin.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) direncanakan bakal mengumumkan laporan inflasi atau Indeks Konsumen (IHK) sepanjang bulan September 2017. Sejumlah ekonom memprediksi bahwa di bulan kesembilan, Indonesia akan kembali mengalami inflasi, meski tipis, salah satunya disebabkan bahan pokok yang kembali bergejolak.

“Proyeksi inflasi di bulan September 2017 secara bulanan diprediksi sebesar 0,03% atau 3,62% secara tahunan (year-on-year),” papar Ekonom Indef, Bhima Yudhistira.”Faktor yang menyebabkan inflasi adalah dari sisi harga yang bergejolak, terutama masyarakat terhadap bahan makanan yang masih lemah.”

Selain itu, Bhima menambahkan bahwa faktor lain yang bisa mendorong inflasi adalah tidak ada penyesuaian administered price, baik harga BBM, listrik, dan LPG 3 kg, sehingga faktor inflasi lebih kepada harga yang bergejolak. “Faktor inflasi lebih disebabkan kenaikan harga bahan baku barang industri karena nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar AS,” sambungnya.

Hampir senada, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubrata, menuturkan bahwa tingkat inflasi Indonesia di bulan kesembilan diperkirakan masih akan stabil. Pasalnya, tidak ada kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok sepanjang bulan September lalu. “Kami memperkirakan inflasi secara bulanan sekitar 0,1%,” kata Rully.

Berbeda dengan dua ekonom tersebut, justru memprediksi selama bulan September 2017, Indonesia akan mengalami deflasi sebesar 0,01%. Penurunan harga barang dan secara umum terjadi seiring dengan penurunan harga bahan-bahan makanan. “Perkiraan deflasi di bulan September sejalan dengan harga-harga barang yang masih terkoreksi,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo.

Loading...