Tugas Ganda sebagai Perawat, Risiko Pembantu di Hong Kong Makin Tinggi

Pembantu Rumah Tangga - premhouse.blogspot.comPembantu Rumah Tangga - premhouse.blogspot.com

HONG KONG – Asisten yang bekerja di Hong Kong, termasuk dari Filipina dan Indonesia, melakukan pekerjaan tambahan daripada tugas yang mereka lakukan setiap hari. Mereka juga harus merawat orang tua yang jumlahnya makin meningkat di kota ini, yang menuntut peningkatan keterampilan sekaligus berpotensi menaikkan risiko kelelahan.

Dilansir Nikkei, China dan Hong Kong memang berada dalam teratas sebagai negara dengan populasi orang tua terbanyak, sehingga memicu permintaan untuk perawat. Karena sebagian besar keluarga sudah mempekerjakan pembantu rumah tangga, banyak yang lantas meminta mereka untuk menjaga orang yang sudah tua. Tren ini memang memberikan pekerja kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi fisik.

Sebuah di Singapura bernama Active Global Specialized Caregivers menyediakan mengenai perawat. Perusahaan ini menawarkan perawatan untuk pembantu rumah tangga yang mencakup segalanya, mulai dari memberi makan, bantuan ke toilet, hingga tanggapan darurat. ini terdiri dari 10 sesi empat jam pada hari Minggu.

“Orang tua majikan saya sudah tua dan saya ingin merawat mereka dengan lebih baik. Saya memasak makanan yang mudah bagi orang tua lanjut usia untuk dikunyah dan membawanya ke dokter,” ujar salah satu peserta pelatihan, Myrna Alcantara, berusia 47 tahun asal Filipina. “Pelatihan mengenai CPR agak sulit, tetapi kelas ini sangat berguna.”

Peserta lain, seorang wanita berusia 30-an yang hanya memberikan nama depannya, Maylene, mengatakan bahwa dia telah bekerja di Hong Kong selama lima tahun dan sering menemani orang tua yang terikat dengan kursi roda. Keluarga, katanya, mendukung dia menerima pelatihan. Ia sendiri telah merekomendasikan kursus kepada seorang teman.

Alcantara dan Maylene adalah dua dari sekitar 370.000 pekerja rumah tangga di Hong Kong, sebuah kelompok yang membentuk hampir 10% dari populasi pekerja kota. Pengurus rumah tangga dari Filipina menyumbang 54%, sedangkan dari Indonesia mewakili 43%. Awalnya hanya orang kaya yang mampu membayar, tetapi hari ini banyak pembantu yang bekerja di rumah-rumah biasa.

Di antara keluarga dengan dua orang tua yang bekerja dan setidaknya satu anak, diperkirakan 44% mempekerjakan pembantu. Pada tahun 2017 kemarin, pemerintah Hong Kong mengeluarkan perkiraan bahwa kota ini akan membutuhkan 600.000 pembantu rumah tangga dalam waktu 30 tahun. Peningkatan itu akan bertepatan dengan peningkatan dramatis pada lansia, dengan penduduk berusia 65 tahun atau lebih diperkirakan menyumbang 32% dari populasi pada tahun 2046 mendatang.

Maylene mengatakan, banyak pembantu rumah tangga asing berharap bahwa seiring meningkatnya permintaan akan mereka, mereka akan dapat menemukan peluang yang lebih baik jika mereka memperoleh keterampilan perawatan Tetapi, ada juga kekhawatiran nyata tentang kondisi kerja. Bahkan sekarang, jam kerjanya cenderung panjang, namun masih dengan upah yang terbilang rendah.

“Secara hukum, pekerja rumah tangga Hong Kong diharuskan untuk tinggal bersama majikan mereka. Namun, beberapa tidak disediakan kamar sendiri dan dipaksa untuk tidur di dapur atau ruang tamu,” kata wakil manajer Help for Domestic Workers, Betty Wagner. “Pembantu harus melakukan segalanya, mulai memasak, mencuci, membersihkan, dan merawat anak-anak. Jika kita ingin memperluas peran pembantu, kita harus memikirkannya dengan hati-hati.”

Sementara itu, sekretaris Help for Domestic Workers, Manuela Basto, menambahkan perlunya meningkatkan perlindungan bagi pekerja rumah tangga. Pasalnya, pembantu dikecualikan dari diskusi aturan jam kerja minimum, selain tidak ada sistem pensiun untuk mereka. “Mereka harus dijamin hak buruh yang sama seperti pekerja biasa lainnya,” katanya.

Loading...