Trump Ultimatum NATO, Tuntut Naikkan Anggaran Pertahanan

Donald Trump, Presiden AS - www.vox.comDonald Trump, Presiden AS - www.vox.com

, , mengklaim bahwa NATO sepakat untuk meningkatkan pengeluaran sebesar 2 persen dengan ‘segera’. Selain itu, Trump juga mengecam Jerman karena membiarkan energi asal Rusia, Gazprom, membangun saluran pipa Nord Stream 2 melalui perairan mereka, serta menyebut Rusia, Vladimir Putin, hanya sebagai ‘pesaing’, bukan ‘musuh’.

“Saya membiarkan mereka (NATO) tahu bahwa saya sangat tidak senang dengan apa yang terjadi dan mereka telah meningkatkan komitmen mereka secara substansial,” kata Trump dalam konferensi pers usai KTT Brussels, seperti dilansir TRT World. “Sekarang, kami sangat bahagia dan memiliki NATO yang sangat, sangat kuat, jauh lebih kuat daripada dua hari yang lalu.”

Trump tidak hanya menuntut agar sekutu mencapai komitmen mereka untuk meningkatkan pembelanjaan menjadi dua persen dengan ‘segera’, bukannya pada tahun 2024 seperti yang disetujui sebelumnya, tetapi juga mengatakan kepada mereka untuk akhirnya menggandakan angka menjadi empat persen. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, lantas menyerukan sidang darurat untuk semua 29 guna memenuhi tuntutan Trump.

“Jerman baru saja mulai membayar Rusia, negara yang mereka inginkan perlindungannya, miliaran AS untuk kebutuhan energi mereka yang keluar dari saluran pipa baru dari Rusia,” tulis Trump dalam akun Twitter miliknya pada Kamis (12/7) pagi. “Ini tidak dapat diterima! Semua negara NATO harus memenuhi komitmen 2 persen mereka, dan itu pasti harus mencapai 4 persen!”

Meskipun ‘galak’ terhadap para sekutu, Trump ternyata menyebut pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ‘lebih mudah’. Presiden yang gampang mengancam itu tidak menyebut Putin sebagai ‘musuh’, melainkan melihatnya sebagai ‘pesaing’. Pernyataan ini sendiri terbilang menyengat di saat sejumlah intelijen AS menyimpulkan isu bahwa Rusia ikut campur dalam pemilu 2016 untuk pencalonan Trump.

Setelah KTT NATO, jadwal Trump selanjutnya adalah pergi ke Inggris. Trump sendiri telah ‘menuangkan bahan bakar’ ke api Brexit hanya beberapa jam sebelum dia mendarat di negara tersebut, dengan mengatakan dia tidak yakin bahwa Inggris telah memilih rencana Brexit yang disajikan oleh Perdana Menteri Theresa May, yang telah memicu pemberontakan kabinet Inggris.

Meski para administrasi Trump menunjuk aliansi lama antara Amerika Serikat dan Inggris, rencana perjalanan Trump sebagian besar akan menjauhkan sang presiden dari pusat Kota London, lokasi protes signifikan diperkirakan terjadi. Sebaliknya, serangkaian acara makan malam berkelas dengan para pemimpin bisnis, pertemuan dengan May, dan audiensi dengan Ratu Elizabeth II akan terjadi di luar kota yang ramai.

“Satu alasan kedua negara begitu dekat adalah karena kami memiliki kebebasan yang kita semua perjuangkan,” ujar duta besar AS untuk Inggris, Woody Johnson, kepada Fox News. “Salah satu dari kebebasan yang kami miliki adalah kebebasan berbicara dan kebebasan untuk mengekspresikan pandangan Anda. Dan, saya tahu itu dihargai sangat tinggi di sini.”

Loading...