Trump Ingin Suku Bunga Negatif, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - www.savemoneychanger.comRupiah - www.savemoneychanger.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Rabu (13/5) sore di tengah penantian akan pidato Gubernur ketika topik negatif mengemuka di keuangan. Menurut laporan Index pada pukul 14.55 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 40 poin atau 0,27% ke level Rp14.865 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pada pukul 10.05 WIB menunjukkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.887 per dolar AS, menguat 91 poin atau 0,61% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.978 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,31% dialami rupee India.

“Dolar AS berpotensi dalam tekanan turun dalam jangka pendek karena data AS yang pesimis semalam,” tutur analis Monex Investindo Futures, Faisyal, dilansir Bisnis. “Selanjutnya, fokus akan tertuju ke data PPI AS yang dirilis pukul 19.30 WIB serta pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan pukul 20.00 WIB untuk mengetahui perkembangan outlook pelonggaran moneter oleh bank sentral AS dalam rangka menyelamatkan dari hantaman virus corona.”

Dari pasar global, indeks dolar AS memang terpantau mengambil posisi defensif terhadap mata uang utama pada hari Rabu ketika investor menantikan pidato Jerome Powell di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Amerika Serikat suatu hari nanti dapat mengadopsi suku bunga negatif. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,089 atau 0,09% ke level 100,022 pada pukul 11.24 WIB.

Dilansir Reuters, indeks harga konsumen AS turun 0,8% pada bulan April 2020, terbesar sejak Great Depression, meningkatkan momok deflasi ketika ekonomi tenggelam ke dalam resesi dan memicu perdebatan tentang respons kebijakan. Presiden AS, Donald Trump, pun kembali mendorong Federal Reserve untuk mengadopsi suku bunga negatif, sebuah topik hangat di pasar keuangan sejak minggu lalu.

“Saya akan menyarankan agar suku bunga negatif. Jepang telah melakukan itu, tetapi persepsi di sini adalah bahwa itu tidak begitu baik,” kata ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, Hiroyuki Ueno. “Yang mengkhawatirkan adalah bahwa Trump sekarang membicarakannya. Melihat kasus di masa lalu, The Fed mungkin akan melakukan apa yang diinginkan Trump.”

Loading...