Trump Ragukan Kesepakatan Brexit, Rupiah Kembali Melemah di Hadapan Dolar AS

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Rabu (28/11) dengan pelemahan sebesar 18,5 poin atau 0,13 persen ke level Rp 14.533,5 per AS. Kemarin, Selasa (27/11), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 40 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp 14.515 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS menguat seiring dengan melemahnya pound sterling pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan antara Inggris dengan Uni Eropa kemungkinan bakal merusak perdagangan antara kedua .

“Saya pikir kita harus melihat dengan serius apakah Inggris diperbolehkan untuk berdagang. Karena Anda tahu, saat ini, jika Anda melihat kesepakatan itu, mereka mungkin tidak dapat berdagang dengan kami,” ujar Trump, Senin (26/11), seperti dilansir Republika.

Kemudian untuk menanggapi pernyataan Trump tersebut, Perdana Menteri Inggris Theresa May pada Selasa (27/11) pun membela rencana Brexit. “Inggris akan dapat melakukan kesepakatan perdagangan dengan negara-negara di seluruh dunia. Mengenai Amerika Serikat, kami telah berbicara kepada mereka tentang jenis perjanjian yang bisa kami miliki di masa depan,” paparnya.

Dolar AS pun makin perkasa usai Wakil Ketua Richard Clarida menyampaikan pidatonya pada Selasa (27/11) lalu bahwa The Fed akan terus mendukung kenaikan suku bunga. “Strategi kebijakan moneter harus menemukan cara untuk menggabungkan data yang masuk dan model ekonomi, dengan dosis penilaian yang sehat dan kerendahan hati untuk merumuskan dan kemudian mengkomunikasikan untuk kebijakan suku bunga yang paling konsisten dengan tujuan kebijakan kami,” bebernya.

Rupiah sendiri kembali terkoreksi menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Menurut Ekonom Central Asia (BCA) David Sumual, rupiah melemah lantaran tensi dagang kembali memanas. “Ada rencana Trump menerapkan impor tambahan untuk China, padahal China sudah meminta penundaan hingga tahun depan,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Akan tetapi, Analis Asia Trade Points Futures Andri Hardianto berpendapat jika pelemahan rupiah kali ini terbilang wajar. Terlebih karena mata uang Garuda telah menguat terus-menerus sejak pekan lalu.

Loading...