Trump Positif COVID-19, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - Kabarin.coRupiah - Kabarin.co

JAKARTA – harus puas terbenam di teritori merah pada Jumat (2/10) ketika kabar bahwa Presiden AS, , didiagnosis COVID-19, yang membuat greenback dan yen Jepang sebagai aset aman merangkak naik. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,20% ke level Rp14.865 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB tadi menempatkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate berada di posisi Rp14.890 per dolar AS, terdepresiasi 14 poin dari sebelumnya di level Rp14.876 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak mampu mengungguli greenback, menyisakan peso Filipina di jalur hijau.

“Dolar AS terlihat menguat lagi hari ini menyusul belum tercapainya kesepakatan paket stimulus kedua AS antara Demokrat dan Republik,” tutur Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra. “Pagi ini, DPR AS yang dikuasai Partai Demokrat tetap mengesahkan proposal 2,2 triliun dolar AS yang belum disetujui Partai Republik.”

Selain itu, penurunan mata uang emerging market, termasuk rupiah, juga terjadi akibat kabar terbaru yang menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump dinyatakan positif COVID-19. Ini menyebarkan spekulasi bahwa Joe Biden akan memimpin pemilihan presiden AS, mendorong risiko sekaligus meningkatkan yen Jepang dan greenback.

Dolar AS memang terpantau naik, sedangkan yen Jepang sebagai aset safe haven membuat lonjakan paling tajam dalam lebih dari sebulan pada hari Jumat, setelah Trump mengatakan dia bahwa dia positif COVID-19, hanya sebulan menjelang pemilihan presiden. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,076 poin atau 0,08% ke level 93,787 pada pukul 13.43 WIB.

“Presiden Amerika Serikat mengidap penyakit yang membunuh orang. Orang-orang mengambil risiko karena itu,” kata kepala penelitian pialang Pepperstone di Melbourne, Chris Weston, seperti dilansir Reuters. “Diagnosis Trump dapat merusak kampanyenya, tetapi implikasi selanjutnya untuk pasar tidak jelas, dan akan bergantung pada Trump, seberapa jauh virus telah menyebar di antara politisi AS dan tanggapan pemilih.”

Saat ini, fokus pasar juga tertuju pada laporan data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang akan diumumkan Sabtu (3/10) pagi WIB. Menurut survei yang dilakukan oleh Reuters, perekrutan AS kemungkinan meningkat 850.000 pekerjaan pada bulan September 2020, lebih lambat dari yang dicapai bulan sebelumnya.

Loading...