Trump Kembali Ancam China, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah berakhir melemahRupiah berakhir melemah - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari teritori merah hingga Senin (6/5) sore setelah aset safe haven kembali diburu menyusul ancaman tarif terhadap barang-barang asal . Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 32 poin atau 0,22% ke level Rp14.298 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.308 per AS, terdepresiasi 26 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.282 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,7% dialami yuan China.

Dari global, aset safe haven, seperti yen Jepang dan dolar AS, bergerak naik di hari Senin, setelah Presiden AS, , mengancam untuk menaikkan tarif atas barang asal China senilai 200 miliar dolar AS pada pekan ini. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,018 poin atau 0,02% ke level 97,538 pada pukul 11.56 WIB.

Diberitakan Reuters, pada hari Minggu (5/5) kemarin, meningkatkan tekanan pada China untuk mencapai kesepakatan perdagangan, dengan mengumumkan bahwa ia akan menaikkan tarif atas barang-barang asal Negeri Panda senilai 200 miliar dolar AS. Kicauan dalam Twitter itu menandai perubahan besar negosiasi dagang, yang sebelumnya dikatakan sudah dalam kondisi baik, dengan memuji hubungannya dengan Presiden China, Xi Jinping.

Wall Street Journal melaporkan bahwa beberapa sumber mengatakan, Beijing mungkin membatalkan pembicaraan dengan rekan-rekan AS mereka di Washington yang direncanakan pada hari Rabu (8/5) besok. CNBC juga membuat laporan bahwa Negeri Tirai Bambu ‘kemungkinan’ akan membatalkan perjanjian dagang dengan AS.

akan berharap bahwa langkah presiden ini lebih merupakan taktik negosiasi daripada pernyataan niat,” ujar chief operating officer di broker Rakuten, Nick Twidale. “Tanda-tanda bahwa suatu kesepakatan akan didorong lebih jauh ke jalurnya atau tidak ada kemajuan sama sekali dapat mengirim pasar ke kerugian.”

Loading...