Trump Bakal Bertemu Kim Jong-un, Rupiah Berakhir Menguat

Kabar yang menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, bersedia bertatap muka dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menjadi sentimen yang menyelimuti pasar sepanjang Jumat (9/1) ini. Menurut penuturan Index pukul 15.59 WIB, rupiah pun mampu mengakhiri pekan dengan penguatan sebesar 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.797 per .

Sebelumnya, mata uang Garuda harus ditutup melemah 56 poin atau 0,41% di posisi Rp13.816 per AS pada akhir Kamis (8/3) kemarin. Rupiah mampu berbalik 23 poin atau 0,17% ke level Rp13.793 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Sepanjang hari ini, spot praktis bergerak cukup nyaman di area hijau, mulai awal hingga tutup dagang.

Dari pasar , indeks dolar AS naik versus yen Jepang, salah satu aset safe haven, karena munculnya harapan penghentian uji coba nuklir, usai Donald Trump menunjukkan kesediaan untuk menerima undangan bertemu dengan Kim Jong-un pada bulan Mei. Terhadap yen, greenback naik 0,6% menjadi 106,87 yen, sekaligus bergerak lebih jauh dari level terendah 105,24 yen yang ditetapkan pada 2 Maret.

Dilansir BBC, Kim Jong-un dikabarkan telah mengundang Donald Trump untuk bertemu, sebuah undangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan presiden AS itu menyatakan akan menerimanya. Kabar ini sendiri diungkapkan pejabat senior Korea Selatan di Washington, sambil mengatakan bahwa Kim juga telah sepakat untuk menghentikan uji coba rudal dan senjata nuklir.

“Baik bursa Nikkei maupun kurs dolar AS terhadap yen bergerak menguat setelah berita utama tentang Korea Utara, sekaligus meningkatkan sentimen untuk aset risiko,” kata kepala perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes, dalam sebuah catatan. “Kita juga mengharapkan berita ini untuk menjadi sentimen penggenjot pasar regional.”

Di pasar , mayoritas bursa Asia memang bergerak lebih tinggi pada Jumat pagi, dan hanya IHSG yang bergerak liar dengan kecenderungan turun. Selain ketersediaan Donald Trump untuk bertemu Kim Jong-un, sentimen positif lainnya yang menyelimuti market Asia adalah kebijakan Trump yang mengecualikan Kanada dan Meksiko dari penerapan impor baja dan aluminium.

Loading...