Tren Super Dolar & Kebutuhan Valas Tinggi, Masyarakat Diharuskan pakai Rupiah

MARKETS-PRECIOUS/ memprediksi nasib ke depannya masih akan melemah terhadap AS. Melalui penuturan Agus Martowardojo, selaku Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa fenomena ini merupakan cerminan dari fundamental Indonesia yang juga ditunjang dengan merebaknya tren superdolar pada hampir semua mata uang di dunia.”Soal kurang lebih mencerminkan fundamental kita. Beberapa waktu ini ada di kisaran Rp 13.300 per Dolar AS, ini cerminan fundamental kita. Salah satu penyebabnya yakni tren superdolar,” ungkap Agus di Jakarta (10/6).

Keadaan ini semakin diperparah dengan permasalahan internal tentang current account deficit. “Artinya, kebutuhan dalam negeri terhadap () lebih tinggi daripada ketersediaan tersebut,” jelasnya. Untuk itu, tiap masyarakat dan pelaku usaha dihimbau untuk memaksimalkan penggunaan Rupiah dalam bertransaksi sebagaimana disebutkan dalam Peraturan BI yang mulai diberlakukan pada 1 juli lalu.

“Walau dalam PBI tersebut diberlakukan kelonggaran untuk beberapa sektor, namun, pentingnya penggunaan Rupiah di wilayah NKRI juga diyakini mampu memberikan dampak pada stabilitas ekonomi dalam negeri yang kian membaik,” papar Agus. “Jadi kami ajak semua jajaran, untuk kedaulatan kita harus jaga penggunaan Rupiah, dan sudah ada Undang-Undangnya. Untuk pembayaran di NKRI harus dengan Rupiah dan tidak boleh menolak pembayaran (menggunakan) Rupiah,” tegasnya.

Loading...