Tren Positif Berlanjut, Rupiah Menguat di Perdagangan Selasa Pagi

mampu melanjutkan tren positif yang berlangsung di sesi sebelumnya pada awal perdagangan Selasa (11/7) ini. Seperti dilaporkan Index, Garuda membuka hari ini dengan menguat sebesar 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.393 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.42 WIB, spot kembali naik 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.389 per dolar AS.

Sebelumnya, pada perdagangan awal pekan (10/7) kemarin, mata uang domestik mampu menutup transaksi dengan penguatan super tipis sebesar 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.398 per dolar AS. Rupiah mampu mengakhiri pelemahan yang dialami selama tiga hari berturut-turut justru ketika the bergerak solid.

“Penguatan super tipis yang terjadi pada rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan sebelumnya cenderung disebabkan oleh teknikal,” ujar Analis Monex Investindo Futures, Yulia Safrina. “ global saat ini memang masih mengambil sikap wait and see karena menunggu pidato Gubernur The Fed, Janet Yellen.”

Sementara itu, tenaga kerja AS yang positif pada akhir pekan lalu, menurut Yulia, mampu memberikan sentimen positif terhadap greenback, sehingga terjadi tarik-menarik antara mata uang Paman Sam dengan rupiah. Dirinya pun memperkirakan rupiah kembali melemah pada sesi dagang hari ini karena minimnya sentimen positif. “Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran Rp13.380 hingga Rp13.450 per dolar AS,” sambung Yulia.

Secara keseluruhan, pada semester kedua tahun ini, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan kuat seiring dengan kebijakan proteksionisme Donald Trump yang tidak kunjung memudar selepas pertemuan G20. Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, proteksionisme AS tersebut akan berpengaruh pada perkembangan nilai tukar mata uang global.

“Karena Trump setelah forum G20 tetap bersikukuh bahwa proteksionisme akan terus dilaksanakan, artinya dia tidak berubah pandangannya sejak forum G20,” kata Bhima. “Kebijakan ini akan memengaruhi ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam, dan jika ekspor mengalami kontraksi, maka permintaan terhadap rupiah juga akan menurun.”

Loading...