Tren Positif Berlanjut, Rupiah Dibuka Menguat 67 Poin

Rupiah masih mampu mempertahankan tren positif pada pembukaan perdagangan awal pekan (19/11) ini - www.kabarin.co

JAKARTA – masih mampu mempertahankan tren positif pada pembukaan awal pekan (19/11) ini. Seperti dilaporkan Index, Garuda mengawali dengan menguat 67 poin atau 0,46% ke level Rp14.545 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 53 poin atau 0,36% di posisi Rp14.612 per dolar AS pada akhir pekan (16/11) kemarin.

“Paket kebijakan jilid XVI yang diluncurkan menjadi sentimen positif bagi rupiah,” ujar Ekonom BCA, David Sumual, dikutip dari Kontan. “Maklumlah, investor berasumsi menjelang Pemilu 2019 tidak ada reformasi struktural. Kebijakan ini sebagai upaya menghadapi neraca dagang dan transaksi yang masih defisit.”

Kebijakan tersebut, menurut David, menjadi sentimen positif di sekaligus menjadi salah satu upaya untuk menghadapi neraca perdagangan yang mengalami defisit. Pasalnya, defisit transaksi berjalan naik menjadi 8,8 miliar dolar AS atau setara 3,37% dari domestik bruto (PDB) serta neraca perdagangan jasa pun mengalami defisit sebesar 2,22 miliar dolar AS.

Sementara itu, Analis Monex Investindo Futures, Ahmad Yudiawan, mengatakan bahwa pekan ini, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh kebijakan yang menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan tersebut memberi mata uang Garuda kekuatan. “Untuk awal pekan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.500 hingga Rp14.700 per dolar AS,” terang Yudi.

Meski mata uang domestik terus bergerak menguat, namun Bank Indonesia menyebutkan bahwa rupiah masih terlalu murah alias undervalued. Karena itu, Bank Indonesia menilai kemungkinan untuk pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih terbuka lebar. “Rupiah masih undervalued, namun masih cukup kompetitif untuk perdagangan,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo.

“Ke depan, rupiah bisa saja menguat lebih lanjut. Faktor yang bisa menopang rupiah berasal dari dalam negeri dan luar negeri,””tambah Dody. “Dari domestik, disokong kenaikan suku bunga Bank Indonesia dua hari lalu, sedangkan dari eksternal adalah harapan damai dagang AS-China yang membuat ketidakpastian di pasar keuangan mereda.”

Loading...