Transportasi Utama Bisnis E-Commerce, Penjualan Motor di Indonesia Naik

Penjualan Motor di Indonesia - news.okezone.comPenjualan Motor di Indonesia - news.okezone.com

JAKARTA – Gagasan bahwa seiring naiknya tingkat pendapatan, di negara-negara Tenggara mulai beralih dari ke , tampaknya tidak berlaku di Indonesia. Distribusi dan penjualan roda dua di Tanah Air mengalami kebangkitan, seiring dengan popularitas ojek online serta e-commerce dan pembangunan yang memadai.

Dilansir Nikkei, distribusi domestik kendaraan roda dua naik 8,4% menjadi 6,3 juta unit pada tahun 2018 menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), yang sekaligus membalikkan penurunan selama tiga tahun. Tren positif itu terus berlanjut hingga tahun ini, dengan distribusi naik 19,3% dalam dua bulan pertama di 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, pasar mobil yang mengalami pertumbuhan cukup stabil pada tahun 2018, naik 6,8% menjadi 1,1 juta kendaraan atau meningkat untuk tahun ketiga berturut-turut, telah mengalami kemerosotan sejak Januari 2019. Tidak sampai 254.000 unit mobil yang terjual dalam tiga bulan pertama tahun ini, turun 13% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

yang lebih tinggi untuk pinjaman mobil kemungkinan berkontribusi terhadap penurunan tersebut karena Bank Indonesia menaikkan acuannya sebesar 1,75 poin pada tahun 2018. Sementara itu, beberapa produsen mobil menyebut konsumen yang menunda pembelian sebelum pemilihan presiden bulan April sebagai penyebab. Seorang eksekutif mengatakan bahwa calon pembeli mobil baru, terutama yang berpenghasilan lebih tinggi, waspada terhadap potensi kerusuhan sosial setelah pemilihan.

Prijono Sugiarto, Presiden Astra International, mengatakan bahwa potensi pasar mobil di Indonesia ‘sangat besar’ karena hanya ada 87 mobil yang dimiliki per 1.000 orang, Beberapa tahun yang lalu, beberapa orang juga berasumsi bahwa penjualan mobil akan mencapai 2 juta kendaraan pada tahun 2020. Namun, tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan menunjukkan bahwa peralihan sepeda motor ke mobil belum sepenuhnya terwujud.

“Pergeseran lambat ini sebagian karena secara budaya, banyak rumah yang masih jarang memiliki tempat parkir untuk mobil,” kata Deddy Herlambang dari Perhimpunan Transportasi Indonesia. “Jadi, memiliki sepeda motor dianggap lebih praktis, di samping memiliki mobil juga masih dianggap sebagai fenomena urban.”

Selain itu, peningkatan permintaan untuk kendaraan dua roda juga dapat berasal dari perubahan dalam bidang transportasi dan logistik di Indonesia, terutama dengan menjamurnya layanan seperti Go-Jek dan Grab. Indonesia sendiri telah mengalami dorongan infrastruktur besar-besaran, termasuk pengenalan angkutan umum baru seperti MRT Jakarta. “Sepeda motor dapat dikatakan sebagai transportasi pengumpan ke transportasi umum seperti MRT,” sambung Deddy.

Apa yang disebut kebutuhan jarak tempuh terakhir, menggunakan motor untuk mencapai stasiun serta tujuan akhir, juga terjadi di bisnis e-commerce Indonesia yang sedang berkembang. Menurut laporan Roland Berger pada tahun 2018, arsitektur pengiriman mil terakhir untuk layanan ini didominasi oleh sepeda motor. Jalanan sempit dan kemacetan yang tidak pernah berakhir menjadikan sepeda motor ideal bagi perusahaan e-commerce untuk mengirim barang ke konsumen.

Konsultan tersebut mencatat bahwa sepeda motor untuk kebutuhan bisnis e-commerce akan lebih sering dipakai daripada penggunaan pribadi. Menurut perusahaan itu, pembelian sepeda motor bisnis akan menyumbang 16% dari pembelian kendaraan baru pada tahun 2024 mendatang, dengan penjualan tahunan lebih dari 1 juta unit di Indonesia.

“Di masa depan, angkutan massal akan menangani pergerakan jarak jauh, tetapi masih akan ada permintaan untuk perjalanan jarak pendek,” kata salah seorang eksekutif di pabrik sepeda motor. “Komposisi pasar memang pasti akan berubah, tetapi kendaraan dua roda akan tetap penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.”

Loading...