Transparansi dan Kerjasama Pertahanan Bakal Hindarkan Asia dari Perang

Saat ini, kawasan memang sangat rentan terjadi konflik. Selain ketidakstabilan di Semenanjung , kegagalan “Poros Pasifik” untuk mendapatkan traksi dalam menghadapi krisis di Suriah, juga ancaman kelompok ISIS, ketegangan yang sedang berlangsung antara dengan Ukraina membuat kawasan ini menjadi “panas”.

Cina, yang memiliki anggaran pertahanan terbesar kedua di dunia, berada di trek untuk menggandakan anggaran militernya pada tahun 2020. Cina membeli dan membangun kapal induk besar untuk meningkatkan daya ofensif mereka. Sementara, merespon dengan menerbitkan undang-undang yang memungkinkan mereka melakukan aksi ketika diserang.

Pada World Economic Forum di Davos dua tahun lalu, hubungan Jepang dan Cina bisa disebut layaknya pertentangan antara dengan pada Perang Dunia I. Meski Perdana Jepang, Shinzo Abe, dan Cina, Xi Jinping, kerap muncul bersama, namun percakapan keduanya dalam beberapa bulan terakhir mengindikasikan ada persaingan signifikan dan berpotensi menimbulkan konflik, termasuk tindakan Cina atas Kepulauan Senkaku yang masih dalam sengketa.

Selain itu, masih ada Korea Utara yang sekarang sedang mengembangkan senjata nuklir dan dipimpin oleh seorang diktator berpengalaman. Dalam keadaan virtual, ini juga sedang melangsungkan perang dengan tetangga mereka, Korea Selatan.

Rata-rata, negara-negara di Asia Timur menyiapkan minimal 5 persen setahun untuk anggaran pertahanan. Ini belum termasuk peningkatan belanja pertahanan di negara-negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Filipina, hingga Malaysia.

Meski begitu, menurut Komandan Tertinggi NATO, Laksamana Stavridis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat internasional untuk mencegah terjadinya konflik dan membantu menciptakan stabilitas di kawasan Asia. Pertama, kekuatan militer negara-negara di kawasan ini harus melakukan pembicaraan langsung, baik secara bilateral ataupun secara regional. Ini untuk meminimalkan kemungkinan kesalahpahaman insiden penembakan, bahkan pencegahan serangan cyber.

Selain itu, pertukaran pandangan secara jujur mengenai keamanan juga dapat menumbuhkan kepercayaan yang lebih tinggi bagi masing-masing negara. Forum seperti Shangri-la Dialogue di Singapura adalah salah satu sarana tepat untuk bertukar pandangan.

Ketiga, menemukan cara bagi militer di wilayah tersebut untuk berkolaborasi secara operasional, terutama di laut. Ini bisa dilakukan dengan latihan maritim yang berfokus pada operasi non-tempur, diplomasi medis, bantuan bencana, serta operasi kemanusiaan.

Keempat, menggunakan platform negosiasi internasional untuk menyelesaikan sengketa teritorial, seperti Mahkamah Internasional di Den Haag. Dan kelima, transparansi anggaran pertahanan negara. Membiarkan semua orang (negara lain) tahu tentang angka yang tepat dari anggaran pertahanan setidaknya dapat membuat percakapan lebih realistis dan serius.

Loading...