Transaksi Pertama Tahun 2021, Rupiah Langsung Menguat Tajam

Rupiah menguat pada perdagangan pertama di tahun 2021 - www.liputan6.com

JAKARTA – langsung tancap gas mengawali pertama di tahun 2021. Menurut catatan Bloomberg Index pada Senin (4/1) pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda menguat tajam 140 poin atau 0,1% ke level Rp13.910 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah terapresiasi 80 poin atau 0,57% di posisi Rp14.050 per dolar AS pada Rabu (30/12) lalu.

“Pergerakan rupiah sepanjang tahun 2020 memiliki volatilitas yang tinggi. Hal tersebut seiring dengan kepanikan pelaku terhadap pandemi virus yang melanda dunia,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir dari Bisnis. “Namun, setelah kepanikan mereda, nilai tukar mata uang Garuda cenderung kembali menguat.”

Meski demikian, Ariston melanjutkan, potensi pelemahan rupiah masih terbuka di awal 2021. Pasalnya, pelaku pasar masih mengkhawatirkan proses distribusi virus corona yang kemungkinan belum merata di seluruh dunia. Belum meratanya distribusi tersebut, dapat memicu kenaikan jumlah kasus COVID-19. “Hal ini akan berimbas pada lesunya nilai tukar rupiah,” ucap Ariston.

Berbanding terbalik, Head of Economics Research Pefindo, Fikri C. Permana memprediksi nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Hanya saja, penguatannya kemungkinan relatif terbatas karena tertahan risiko penularan kasus penyebaran baru virus corona di Inggris.

“Aliran dana asing diprediksi masih akan mengalir di awal tahun, sehingga mampu memberi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah,” ujar Fikri. “ asing masih akan mencari yield yang menarik dan lebih tinggi, yang kebanyakan ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga turut menjadi sentimen positif bagi rupiah.”

Sentimen lain datang dari pengumuman indeks harga (IHK) bulan Desember 2020 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS). Sejumlah ekonom memperkirakan bulan terakhir tahun kemarin akan terjadi sebesar 0,42% secara bulanan, sedangkan tahunan sebesar 1,66%, yang sebagian besar dipengaruhi harga pangan.

“Hal tersebut terjadi karena kenaikan harga beberapa komoditas pangan di akhir tahun. Khususnya harga cabai rawit, cabai merah yang terpengaruh oleh curah hujan yang tinggi. Kemudian harga beras, daging sapi, dan daging ayam juga meningkat di Desember,” kata Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. “Inflasi pangan biasanya terjadi setelah melewati masa panen. Inflasi ini mulai meningkat di akhir tahun hingga tiba panen raya di tahun selanjutnya.”

Loading...