Topang Lira, Suku Bunga Turki Naik Jadi 24 Persen

Lira Mata Uang Turki - www.arabianbusiness.comLira Mata Uang Turki - www.arabianbusiness.com

ANKARA – Turki pada Kamis (13/9) waktu setempat memutuskan untuk menaikkan acuan sebesar 625 basis poin menjadi 24 persen. Langkah ini terpaksa dilakukan untuk mengatrol lira yang terus terpuruk dan berharap bisa meredakan kekhawatiran mengenai pengaruh Presiden Recep Tayyip Erdogan pada kebijakan moneter.

Dilansir TRT World, komite kebijakan moneter sentral setempat mengatakan tingkat repo satu minggu dinaikkan menjadi 24 persen dari 17,75 persen, kenaikan suku bunga pertama sejak Juni. kini telah meningkatkan suku bunga sebesar 11,25 persen sejak akhir April, dalam upaya untuk menyokong kurs lira yang terus turun. “Dengan demikian, komite telah memutuskan untuk menerapkan pengetatan moneter yang kuat untuk mendukung stabilitas harga,” kata sentral

Setelah keputusan tersebut ditetapkan, nilai tukar mata uang lira langsung meroket 5 persen terhadap dolar . Lira menguat menuju level 6,01 terhadap dolar setelah keputusan, dan terus bertahan di posisi 6,15 terhadap greenback. Sebelumnya, mata uang ini telah kehilangan 40 persen nilainya terhadap dolar sepanjang tahun ini, dilanda kekhawatiran tentang kebijakan moneter dan pertengkaran diplomatik antara Turki dan .

Keputusan bank sentral juga dilandasi kenaikan indeks harga (IHK) atau yang mencapai 17,9 persen pada bulan Agustus 2018. Ini mendorong bank sentral untuk mengatakan akan menyesuaikan posisi moneter mereka pada pertemuan September ini dalam menghadapi ‘risiko signifikan’ terhadap stabilitas harga.

Sebelumnya, pada pertemuan di bulan Juli kemarin, bank sentral memutuskan tidak menaikkan suku bunga acuan mereka. Hal tersebut membuat kurs lira melorot sekitar 25 persen. Pihak berwenang Turki telah mengambil serangkaian langkah yang dirancang untuk mendukung mata uang, dengan bank sentral mengambil langkah-langkah likuiditas dan pengawas perbankan untuk membatasi transaksi derivatif.

Erdogan sendiri telah melemparkan krisis lira sebagai ‘ ekonomi’ yang menargetkan negaranya, berulang kali mendesak masyarakat lokal untuk menjual dolar AS mereka guna menopang lira. Dalam keputusan yang diumumkan sebelumnya, ia mmengatakan bahwa penjualan properti dan perjanjian sewa harus dilakukan dalam mata uang lira, yang mengakhiri transaksi dalam mata uang asing.

Loading...