Tisu Toilet Diburu Saat Wabah Virus Corona, Ini Alasannya

Tisu toilet di kamar mandiIlustrasi : Tisu toilet di kamar mandi

BONN – Di tengah-tengah wabah yang belum jelas kapan akan berakhir, orang-orang panik menimbun berbagai , seperti masker, hand sanitizer, serta bahan makanan. Anehnya, di berbagai , seperti Jerman dan Australia, mereka yang panik juga memburu dan menimbun barang apa saja yang mereka lihat di supermarket, termasuk tisu toilet, sehingga membuat persediaan pembersih ini menipis.

“Ini adalah momen hilangnya kontrol maksimum, ketidakpastian maksimum, dan perubahan maksimum,” papar Britta Krahn, pengajar psikologi bisnis di Universitas Bonn-Rhine-Sieg, kepada Deutsche Welle. “Ketika masker wajah dan desinfektan terjual habis, mereka hanya mengambil apa yang mereka bisa, barang-barang yang tidak akan rusak. Tisu toilet telah menjadi metafora untuk keselamatan, jika bukan simbol dari krisis coronavirus ini.”

Produsen tisu toilet, Fripa, telah meningkatkan secara besar-besaran ketika krisis coronavirus terjadi di , menggandakan volume 130.000 ton saniter tahunan yang biasa ke grosir dan rantai ritel. Dengan jumlah tersebut, perusahaan mengaku masih belum dapat memenuhi permintaan. “Saya tidak tahu mengapa orang-orang tergila-gila dengan tisu toilet, tetapi mungkin mudah untuk disimpan dan tidak terlalu mahal,” kata juru bicara Fripa, Juergen Fischer.

Ortwin Renn, direktur ilmiah di Institute for Advanced Sustainability Studies (IASS) di Potsdam, membedakan tiga reaksi pada saat terjadinya krisis. Para peneliti yang mempelajari sosiologi risiko mengatakan bahwa beberapa orang mengabaikan bahaya, yang lain meringkuk dalam bola untuk menghindarinya, sedangkan yang lainnya adalah petarung.

“Orang-orang mendengar atau membaca di media bahwa orang lain membeli banyak tisu toilet,” ujar psikolog bisnis, Anja Achtziger, dari Universitas Zeppelin di Friedrichshafen. “Di tempat kerja, di keluarga, dan di antara teman-teman, orang-orang terus-menerus berbicara tentang apakah dan berapa banyak mereka telah menimbun, yang membuat orang-orang yang belum menimbun menjadi gugup, sehingga mereka pergi keluar dan melakukannya juga.”

Sejarah awal tisu toilet sendiri dapat ditelusuri melalui temuan arkeologis di tambang garam tertua di dunia dekat Hallstadt, di wilayah Salzkammergut, Austria, yang menunjukkan bahwa daun dari tanaman butterbur digunakan sebagai tisu toilet pada awal Zaman Perunggu. Sementara, catatan tertua yang menyebutkan kertas toilet ditemukan dalam catatan sejarah China yang berasal dari abad keenam.

Kemudian, pada tahun 1393, Pengadilan Kekaisaran di Nanjing menggunakan sekitar 720.000 lembar kertas toilet, dengan masing-masing lembar berukuran 2 x 3 kaki. Kaisar Hongwu dan keluarganya sendiri menggunakan 15.000 lembar dari apa yang dikatakan sebagai ‘jenis kertas toilet yang sangat lembut dan wangi’.

Di Eropa abad pertengahan, di sisi lain, orang-orang menggunakan kain tua, potongan-potongan kain, atau bola-bola wol untuk menyeka bagian belakang mereka. Kadang-kadang mereka menggunakan lumut, daun, dan bahkan jerami, demikian tulis Sabine Schachtner, direktur pabrik kertas LVR Papiermühle Alte Dombach, dalam bukunya tentang kertas toilet dan sejarah budaya menyeka.

Penggalian jamban abad pertengahan di Hanseatic League, Tartu (tempat yang sekarang berada di Estonia) menemukan potongan-potongan kain yang digunakan sebagai kertas toilet. Perbedaan kualitas menunjukkan status sosial rumah tangga. Kain wol halus yang sobek-sobek dari pakaian sehari-hari, beberapa masih dengan sutra yang terpasang, digunakan oleh keluarga kaya. Sementara, keluarga miskin menggunakan kain kasar dan sederhana.

Loading...