Tingkatkan Produktivitas Tanaman, Berikut Harga Pupuk Silika

Ilustrasi : Petani memupuk tanaman padi - okezone.com

Di Indonesia, penggunaan silika dalam bidang bisa dibilang masih belum meluas. Padahal, unsur nomor dua terbesar setelah oksigen ini diklaim mampu meningkatkan dan produktivitas tanaman hingga 15 persen. Di sendiri, pupuk silika umum dalam bentuk cairan, dengan sekitar Rp40 ribuan sampai Rp100 ribuan.

“Silika sebenarnya termasuk unsur yang sangat melimpah setelah oksigen. Unsur silika dapat ditemukan pada jerami padi, terak baja, fly ash, dan tandan kosong,” tulis Sawit Indonesia dalam situs resminya. “Hanya, ketersediaannya bagi tanaman yang menjadi perhatian, karena meskipun berlimpah, tidak semua tanaman cocok menggunakan pupuk ini.”

Jika tanaman kekurangan silika, situs yang sama melanjutkan, daun tanaman bisa terkulai sehingga kurang efektif menangkap sinar matahari. Selain itu, tanaman juga mudah layu atau peka terhadap kekeringan, daun dan batang lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta tanaman mudah rebah, yang pada akhirnya mengurangi kualitas .

Di pasaran sendiri, sudah tersedia beberapa merek pupuk silika, yang umumnya hadir dalam bentuk cairan. Pupuk silika merek Biomax misalnya, sekarang dilepas dengan harga sekitar Rp43 ribuan untuk kemasan 200 ml dan Rp100 ribuan untuk kemasan 500 ml. Merek lainnya, X-ZO, ditawarkan dengan harga Rp49 ribuan untuk kemasan 100 ml, sedangkan Sio Platinum kemasan 25 gram dijual Rp40 ribuan.

Meski masih jarang digunakan, namun dalam kurun waktu lima tahun terakhir, para petani sudah mulai mengenal pupuk fungsional seperti silika, selain pupuk urea atau TSP. Berperan penting dalam meningkatkan produksi, terutama untuk famili gramineae, seperti padi, tebu, dan jagung, sayangnya standar mutu pupuk silika belum memiliki yang jelas.

“Aturan sebelumnya dalam Permentan Nomor 43/Permentan/SP.140/8/2010 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pupuk Anorganik dan Permentan Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah belum mewadahi perkembangan teknologi terkini,” jelas Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Prama Yufdi, seperti dilansir Republika. “Perlu revisi agar tidak ketinggalan zaman.”

Loading...