Tingkatkan Efisiensi, Pembangkit Listrik ASEAN Beralih ke Teknologi Internet

Pembangkit Listrik - asia.nikkei.comPembangkit Listrik - asia.nikkei.com

BANGKOK – -negara di kawasan mulai mengadopsi teknologi informasi mutakhir berbasis internet pada pembangkit tenaga mereka untuk menggantikan bakar fosil guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Langkah tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi permintaan energi yang kian melonjak.

Nikkei melaporkan, perusahaan asal Jepang, Marubeni and Global Power Synergy Co., bersama dengan afiliasi perusahaan minyak nasional Thailand, PTT, telah mencapai kesepakatan dasar untuk memasang sensor pada pembangkit listrik yang ada sehingga memungkinkan data operasional dikumpulkan dan dianalisis. Pabrik pembakaran gas yang dikelola oleh GPSC di Provinsi Rayong merupakan kandidat terdepan untuk menjadi pertama yang menerima sensor ini.

kecerdasan buatan diharapkan mulai berjalan setelah enam bulan pengumpulan data awal. Pengelola pabrik akan diberi tahu tentang pengaturan operasional dan risiko kegagalan untuk menghindari penutupan yang tidak terduga. “Produsen tenaga listrik bertekad untuk meningkatkan efisiensi bahkan hanya 0,1 persen, namun ini diharapkan bisa menuai hasil jauh lebih besar,” ujar Manajer Divisi Proyek Energi Marubeni di Thailand, Masayuki Nishida.

Pembangkit listrik dengan menggunakan teknologi ‘internet of things’ memang masih jarang, bahkan di kalangan negara maju. Karen itu, hal ini akan menjadi proyek pertama di Thailand dan diperkirakan menghabiskan biaya beberapa juta AS pada awalnya. GPSC baru akan mengenalkan sistem ke rencana lain tergantung hasil dari Rayong.

“Selama 300 tahun terakhir, manusia telah belajar mengoperasikan mesin,” kata chairman GPSC dan penasihat PTT, Surong Bilakulm. “Mesinnya menjadi lebih bersih dan lebih dapat diandalkan, tetapi kami masih harus mendeteksi apa yang sedang terjadi pada pemeliharaan (mesin itu). Teknologi baru ini akan memungkinkan mesin memberi tahu kami apa yang harus dilakukan, dan mesin akan beroperasi sendiri.”

Sebelumnya, pada bulan Juli lalu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan General Electric untuk mengenalkan Predix, sebuah platform internet industri, di 21 lokasi. Beberapa ribu sensor akan dipasang di masing-masing pabrik untuk mengumpulkan data, mengungkap akar penyebab kerusakan, serta memungkinkan utilitas untuk ‘memprediksi dan mencegah pemadaman lebih baik’.

Di samping itu, perusahaan asal Jepang, Toshiba, telah mendukung upaya pengoptimalan dari pembangkit listrik lokal, DMCI Holdings, di Luzon selatan, Filipina. Kedua perusahaan sudah menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juli lalu. Mitsubishi Hitachi Power Systems, yang bekerja sama dengan Tokyo Electric Power Co. Holdings, juga akan mengenalkan teknologi tersebut ke pembangkit listrik konvensional di Pagbilao, sebuah kota lain di Luzon selatan.

Enam negara ekonomi utama di Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, menggunakan sekitar 900 miliar kilowatt-jam listrik pada tahun 2016, meningkat 60 persen dari tahun 2007, menurut statistik dari BP. Wilayah ini berada di jalur untuk menyalip Jepang, yang menggunakan sekitar 1 triliun kilowatt jam per tahun.

Meskipun tenaga surya dan angin telah tersebar di Asia Tenggara, sebagian besar listrik masih dihasilkan dari sumber daya batubara dan gas alam yang memang berlimpah. Namun, sebagian besar negara ingin mengurangi pengeluaran biaya untuk peralatan baru dan mengoptimalkan pabrik yang ada guna menekan lebih banyak daya dari jumlah bahan bakar yang sama.

Loading...