Tingkatkan Dana Belt and Road, China Terbitkan Obligasi Khusus

Shi Yaobin, Wakil Menteri Keuangan China - www.adb.orgShi Yaobin, Wakil Menteri Keuangan China - www.adb.org

BEIJING – Para China menegaskan bahwa mereka akan terus memperkuat dukungan finansial untuk proyek Belt and Road, yang mendorong pengembangan infrastruktur di antara Asia dan . Negeri Tirai Bambu sendiri akan mendorong diversifikasi pembiayaan untuk proyek tersebut, salah satunya menerbitkan obligasi khusus Belt and Road.

“Kami akan mendorong diversifikasi jalur pembiayaan untuk proyek Belt and Road,” ujar Wakil Menteri Keuangan China, Shi Yaobin, kepada wartawan Rabu (7/3) kemarin, seperti dikutip Nikkei. “Pemerintah selanjutnya akan melakukan konsolidasi prestasi yang telah kami buat dalam hal intermediasi keuangan.”

Perjanjian pertukaran mata uang bilateral senilai 1,4 triliun yuan telah ditandatangani dengan bank sentral di 24 negara yang berpartisipasi dalam proyek tersebut, menurut sebuah laporan yang dirilis pekan ini. Otoritas China baru-baru ini juga mengizinkan perusahaan lokal dan asing serta agen pemerintah asing untuk menerbitkan obligasi ‘Belt and Road’ melalui Shanghai dan Shenzhen.

“Pembiayaan Belt and Road akan berjangka panjang dan stabil, sambil mengikuti kontrol risiko,” sambung Shi. “Selain itu, pemerintah juga sedang mendirikan pusat pembiayaan Belt and Road internasional. Kami ingin membuka perdagangan dan mengurangi dengan negara-negara di sepanjang Belt and Road.”

Pemerintah setempat mengklaim, telah menandatangani lebih dari 100 kesepakatan dengan 86 negara dan organisasi di bawah prakarsa tersebut. Hal ini lantas dilanjutkan dengan pembangunan jalur kereta api, pelabuhan, dan jaringan pipa minyak dan gas bumi. Proyek tersebut termasuk jalur kereta api Mombasa-Nairobi di Kenya dan proyek kereta api yang menghubungkan Hungaria dengan Serbia, China dengan Laos dan Thailand, serta Jakarta-Bandung di Indonesia.

Meski demikian, hubungan internasional China, terutama dalam hal pembiayaan proyek Belt and Road, juga menimbulkan kekhawatiran. The Center for Global Development, yang berbasis di AS, dalam sebuah penelitian menuturkan bahwa pinjaman Belt dan Road telah menciptakan masalah keberlanjutan utang di delapan negara, yaitu Djibouti, Laos, Kyrgyzstan, Maladewa, Mongolia, Montenegro, Pakistan dan Tajikistan.

“Rekor jejak China yang mengelola tekanan utang telah bermasalah” tulis laporan yang diterbitkan pada Senin (5/3) kemarin. “Tidak seperti kreditor pemerintah terkemuka lainnya, China belum menandatangani peraturan yang mapan karena harus menghindari pinjaman yang tidak berkelanjutan dan menangani masalah utang saat terjadi.”

Tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, langsung membantah temuan laporan tersebut. Menurutnya, pemerintah selalu menyoroti bahwa proyek Belt and Road harus mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi, sosial, keuangan, fiskal, lingkungan, dan utang. “Apakah Belt and Road itu baik atau tidak, hanya negara dan orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya yang memenuhi untuk berbicara mengenai masalah ini. Saya yakin para peserta akan membuat keputusan berdasarkan pada kepentingan terbaik mereka,” kata Geng.

Loading...