Timbulkan Efek Samping, Biaya 1 Kali Kemoterapi Capai Rp6 Jutaan

Kemoterapi - www.milliyet.com.trKemoterapi - www.milliyet.com.tr

merupakan salah satu mematikan yang telah lama menjadi momok di . Jika seseorang terserang ini, salah satu cara yang biasa dilakukan untuk membunuh sel kanker dan mencegah berkembang adalah dengan kemoterapi. Sayangnya, untuk melakukan ini, biaya yang dikeluarkan tidak murah. Untuk satu kali kemoterapi, pasien harus mengeluarkan biaya hingga Rp6 juta, dan juga memiliki beberapa efek samping.

“Upaya kemoterapi untuk perawatan penyakit kanker saat ini memang masih terbilang . Dalam satu tindakan, biaya yang dikeluarkan masih cukup besar,” ujar Spesialis Penyakit Dalam dari Pusat Kanker Santosa Hospital Bandung Kopo (SHBK), Dinny G. Prihadi. “Akan tetapi, pemerintah tengah berupaya untuk memasukkan terapi ini ke dalam struktur BPJS.”

Senada, Dr. Ulfana Said Umar, yang juga pernah menjabat Wakil Sekretaris Umum Yayasan Kanker Indonesia (YLKI) menuturkan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk kanker antara Rp102 juta hingga Rp106 juta per bulan. Untuk sampai ke diagnosis awal saja, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai Rp10 juta, dan minimal Rp25 juta jika kanker bisa dioperasi. “Lalu, masih harus radiasi dan kemoterapi dengan biaya Rp2 juta sampai Rp6 juta sekali terapi, dengan rata-rata enam kali terapi,” ujarnya.

Selain relatif tidak murah, kemoterapi ternyata juga memiliki beberapa efek samping. Efek jangka pendek kemoterapi di antaranya adalah mual, muntah, rambut mengalami kebotakan, dan kelelahan. Selain itu, meski jarang terjadi, perawatan ini juga memiliki potensi menimbulkan kanker sekunder. Rata-rata kemoterapi yang tidak hanya dilakukan satu kali juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien.

Untungnya, ilmu pengetahuan semakin berkembang dan pengidap kanker, terutama kanker payudara, tidak harus melakukan kemoterapi. Penderita kanker payudara dapat menjalani tes genomik sebelum melakukan perawatan kemoterapi. Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui munculnya kembali sel kanker dalam rentang waktu tertentu.

“Tes genomik berfungsi untuk melihat kankernya risiko tinggi atau tidak,” jelas Principal Investigator Stem cell and Cancer Institute, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D, seperti dikutip Kompas. “Kalau risiko rendah, dia tidak perlu melakukan kemoterapi dan penelitian menyebutkan bahwa dalam lima tahun risiko kambuhnya 5 persen, dan 10 tahun risikonya 10 persen.”

Loading...