Tiga Tahun ke Depan, Perusahaan Asia Pasifik Bakal Otomatisasi Pekerjaan

Otomatisasi Pekerjaan - www.voaindonesia.comOtomatisasi Pekerjaan - www.voaindonesia.com

HONG KONG – di Asia Pasifik berencana untuk melakukan otomatisasi rata-rata 23 persen unit yang mereka jalankan dalam tiga tahun ke depan, demikian menurut survei yang dilakukan oleh Willis Towers Watson yang berbasis di AS. Otomatisasi ini praktis akan mengurangi kebutuhan tenaga manusia atau karyawan penuh waktu.

Seperti dikutip dari , survei tersebut mencakup 909 perusahaan di seluruh , termasuk 507 perusahaan di kawasan Asia Pasifik, yang meliputi , keuangan, ritel, dan utama lainnya. Dari survei tersebut, 85 persen perusahaan mengatakan bahwa mereka berencana memperluas otomatisasi dalam tiga tahun ke depan. Akibatnya, 48 persen pengusaha mungkin akan membutuhkan lebih sedikit karyawan, dengan 20 persen perusahaan saat ini sudah mampu bekerja dengan sedikit karyawan.

Masih menurut survei yang sama, otomatisasi kemungkinan akan membawa perubahan dalam kontrak kerja. Sekitar 52 persen responden bilang bahwa mereka merencanakan atau mempertimbangkan ‘mendekonstruksi’ pekerjaan menjadi tugas komponen untuk menentukan bagian-bagian yang dapat di-otomatisasi. Sementara, 58 persen perusahaan mengatakan bahwa mereka akan memanfaatkan pekerja seperti freelancer dan kontraktor.

“Pendapat saat ini mengatakan bahwa otomatisasi di tempat kerja akan berdampak negatif pada pekerja karena mengambil alih pekerjaan dari manusia,” ujar Hamish Deery, leader for talent untuk wilayah Asia Pasifik di Willis Towers Watson. “Kenyataannya, teknologi bisa ‘mendemokratisasikan’ tenaga kerja bagi banyak pekerja di Asia karena penyebaran internet berkecepatan tinggi di wilayah ini memungkinkan orang bekerja dari mana saja.”

Pertanyaannya sekarang, apakah perusahaan di wilayah ini siap untuk merangkul teknologi terbaru dan menyiapkan para pekerja mereka untuk lingkungan kerja yang baru? Kurang dari 5 persen perusahaan di Asia Pasifik mengatakan bahwa fungsi sumber daya manusia mereka sepenuhnya dipersiapkan untuk mengubah persyaratan digitalisasi.

Namun, ketika harus meningkatkan keterampilan untuk pekerja mereka, hanya 51 persen perusahaan yang mengatakan bahwa mereka merencanakan atau mempertimbangkan untuk meluangkan kembali karyawan mereka. Semua ini bisa berarti pekerja akan mendapatkan penghasilan lebih sedikit, kecuali jika mereka sudah memiliki keterampilan yang dituntut oleh banyak organisasi.

Otomatisasi secara mendasar dapat mengubah struktur ekonomi negara-negara berkembang dan berpenghasilan menengah di kawasan Asia, yang sebelumnya telah menarik investasi asing di sektor tenaga kerja murah. Negara-negara ini bisa kehilangan daya saing mereka ketika otomatisasi mulai memainkan peran penting dalam inisiatif pemotongan biaya perusahaan.

Kepala Bank Sentral India, Raghuram Rajan, beberapa waktu lalu memperingatkan dalam sebuah wawancara dengan Nikkei Asian Review bahwa pekerjaan hilang bukan karena persaingan , tetapi ‘via teknologi’, dan penyebaran teknologi otomatisasi dapat menyebabkan ketidaksetaraan di dunia. “Saya tidak berpikir kita siap untuk semua perubahan yang akan datang,” kata Rajan.

Loading...