The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Hingga Akhir Tahun

kipas-dollarrupiahSetelah menukik tajam pada akhir pekan lalu, berusaha sedikit membalik keadaan pada pembukaan perdagangan pagi ini (19/10). Mata uang Garuda ini menguat 24 poin atau setara 0,18% ke level Rp 13.516 per Dolar AS.

Terapresiasinya Rupiah pagi ini tak lepas dari faktor Bank Sentral Amerika Serikat () yang dikabarkan tak akan menaikkan hingga akhir tahun. Selain itu, kebijakan OJK yang mengiringi dirilisnya ekonomi turut mendongkrak posisi Rupiah. “Sementara faktor di dalam negeri, pengaruh positif salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa (OJK),” ujar Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis.

OJK merilis enam poin kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat basis cadangan devisa , diantaranya tentang relaksasi bisnis penitipan dan pengelolaan valuta asing, skema asuransi pertanian, revitalisasi dan perluasan kelembagaan industri modal ventura untuk pengusaha pemula dan mikro, konsorsium pembiayaan industri, pemberdayaan lembaga pembiayaan ekspor, dan implementasi one project konsep dalam penetapan kualitas .

Hal ini dirasa sangat perlu untuk dilakukan, mengingat cadangan devisa Indonesia sudah banyak terkuras. “Saya mengapresiasi kebijakan OJK tersebut. Saya menilai enam kebijakan itu merupakan terobosan penting yang telah dilakukan OJK untuk menghadapi krisis ekonomi dunia akibat stagnasi sekuler. Tanpa kebijakan baru ini Indonesia akan terancam masuk ke dalam perangkap likuiditas global,” timpa Deni.

Meski begitu, Head of Research NH Securities Indonesia Reza Priyambada menilai bahwa Rupiah masih sangat mungkin untuk kembali melemah, terutama berkaitan dengan kenaikan inflasi dan penurunan klaim pengangguran di AS. “Sehingga dolar AS mampu berbalik naik dari pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Mulai adanya pembalikan arah dikhawatirkan dapat memberikan peluang kembali terjadinya pelemahan rupiah,” tutur Reza dalam risetnya.

Loading...