The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Manfaatkan Momentum untuk Rebound

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta dibuka menguat 91 poin atau 0,64 persen ke posisi Rp 14.040 per di awal pagi hari ini, Kamis (31/1). Sebelumnya, Rabu (30/1), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 37 poin atau 0,26 persen ke angka Rp 14.131 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun lantaran memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya.

“Para hakim Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target untuk tingkat Federal Fund Rate (FFR) di 2,25-2,5 persen. Mengingat perkembangan dan keuangan dan tekanan inflasi yang diredam, Komite akan bersabar karena menentukan penyesuaian di masa depan pada kisaran target untuk tingkat FFR yang mungkin sesuai untuk mendukung hasil ini,” ujar Komite Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu, seperti dilansir Xinhua melalui iNews.

Para pelaku pasar sudah memprediksi jika tingkat kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini akan kurang dari 4 kali dibandingkan proyeksi pada target tahun 2018 lalu. Hal ini pula yang akan meningkatkan aliran uang di pasar keuangan global, sehingga mengakibatkan dolar AS kurang bernilai dibanding mata uang lain.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, tren pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin dipicu oleh rilis pertumbuhan realisasi investasi yang melambat. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total realisasi investasi dalam kurun waktu 2018 mencapai Rp 721,3 triliun, atau hanya tumbuh 4,1%.

Selain rilis data realisasi investasi, menurut Bhima lesunya nilai tukar rupiah juga lantaran pasar tengah menanti rilis data inflasi bulan Januari 2019 yang diprediksi cenderung tinggi. “Hal ini didorong naiknya tiket angkutan udara dan kargo logistik,” papar Bhima, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, faktor sentimen global seperti perkembangan isu Brexit dan negosiasi perang dagang antara China dengan AS pun masih menjadi fokus pasar. Sehingga, tidak heran jika bursa saham Asia melemah dan rupiah pun keok di hadapan dolar AS. Hari ini pun Bhima memperkirakan jika rupiah akan kembali bergerak melemah.

Loading...