The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Lanjutkan Penguatan di Pembukaan

Rupiah - finroll.comRupiah - finroll.com

rupiah dibuka menguat 24,5 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 14.245 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (20/6). Kemarin, Rabu (19/6), Garuda berakhir terapresiasi 56 poin atau 0,39 persen ke level Rp 14.270 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,53 persen menjadi 97,1287 di tengah keputusan sentral Amerika Serikat, yang mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah, demikian seperti dilansir Antara.

Setelah mengakhiri pertemuannya, mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga stabil karena para pejabat Fed mempertimbangkan sinyal beragam pada kesehatan ekonomi Amerika Serikat dan dampak dari ketegangan perdagangan. Komite Terbuka Federal (FOMC), panel pembuat kebijakan , memutuskan untuk mempertahankan kisaran target untuk suku bunga federal fund (FFR) pada kisaran angka 2,25 persen hingga 2,5 persen, demikian bunyi pernyataan usai mengakhiri pertemuan kebijakan dua harinya.

The Fed mencatatkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat dan kegiatan ekonomi meningkat pada tingkat yang moderat sejak Mei 2019, sedangkan indikator-indikator bisnis investasi tetap melemah dan ketidakpastian tentang prospek ekonomi disebutkan telah meningkat.

Menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim, rupiah berhasil menguat usai beberapa bank sentral mengungkapkan arah kebijakan moneternya ke depan, misalnya saja Reserve Bank of Australia (RBA), European Central Bank (ECB), dan Federal Reserve AS. Meskipun The Fed sudah memutuskan menahan suku bunga acuannya, pasar masih yakin penurunan bunga akan terjadi pada rapat Juli 2019 depan.

Hal itu pula yang mengakibatkan yield obligasi AS kembali turun. Sebelumnya posisi yield US Treasury ada di level 2,091 persen. Rupiah pun asyik melenggang ke zona hijau karena negosiasi perang dagang antara AS dan China kembali menemukan titik terang.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira pun menuturkan jika rupiah juga didukung sentimen BI yang diprediksi ikut menurunkan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG). “Bila BI berani menurunkan bunga, inflow pelaku pasar justru akan lebih besar,” jelas Bhima, seperti dilansir Kontan.

Loading...