The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Langsung Melemah di Pembukaan

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (4/5) dengan pelemahan sebesar 10 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 13.318 per dolar AS. Kemarin, Rabu (3/5) berakhir menguat 0,3 persen atau 4 poin ke Rp 13.308 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang Rp 13.293 hingga Rp 13.313 per dolar AS.

Indeks dolar AS menguat 0,27 persen ke 99,244 terhadap sebagian besar mata uang utama pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB akibat dukungan sentimen para yang tengah mempertimbangkan keputusan terbaru dan Amerika Serikat.

Setelah melakukan pertemuan selama 2 hari, akhirnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Hal ini dilakukan karena tersebut ingin menanti lebih banyak data untuk menilai prospek ekonomi di Amerika Serikat.

Sementara itu, lapangan kerja sektor swasta Amerika pada bulan Maret-April 2017 mengalami peningkatan sebesar 177.000 pekerjaan, berdasar penyesuaian secara musiman dan berada di atas konsensus sebesar 175.000 pekerjaan. Perolehan ADP tersebut dapat menjadi indikator awal untuk laporan penggajian (payrolls) non pertanian yang akan dirilis Jumat (5/5) besok.

“Kekhawatiran mengenai risiko geopolitik seperti Korea Utara telah membebani dolar terhadap yen akhir-akhir ini. Namun, fokusnya beralih pada apakah (kekuatan) fundamental ekonomi AS benar-benar berdampak,” kata Satoshi Okagawa, senior market analyst di Sumitomo Mitsui Banking Corporation.

Menurut CME FedWatch, The Fed kemungkinan akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan bulan Juni 2017 mendatang dengan probabilitas sebesar 70%. Para ekonom sendiri berharap The Fed menaikkan suku bunga acuan pada Juni seiring dengan mengetatnya pasar tenaga kerja.

Sedangkan dari dalam negeri, mata uang Garuda tampaknya tak mampu mempertahankan posisinya meski sejumlah data ekonomi yang dirilis menunjukkan perolehan yang positif. Pasalnya saat ini perhatian pasar sedang tertuju pada keputusan The Fed.

Loading...